Sabtu, 29 Maret 2031
Terlanjur Menilai
Kemarin kita mendengar orang-orang Yerusalem meragukan Yesus karena mereka merasa tahu dari mana asal-Nya. Hari ini keraguan itu meledak menjadi perdebatan terbuka. Sebagian berkata, 'Dia ini benar-benar nabi.' Sebagian lain, 'Ia ini Mesias.' Tetapi ada yang langsung memotong, 'Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea.'
Perhatikan cara mereka menutup perkara. Mereka tidak menimbang apa yang Yesus katakan. Mereka cukup menempelkan satu label geografis: dari Galilea. Selesai. Seakan tempat lahir sudah cukup untuk memvonis siapa seseorang sebenarnya.
Prasangka memang bekerja seperti itu. Ia menghemat waktu berpikir. Begitu kita menemukan satu ciri, asal daerah, latar keluarga, cara berpakaian, kita merasa sudah tahu segalanya, dan berhenti mendengarkan.
Hanya satu orang yang bersuara berbeda. Nikodemus, yang pernah datang kepada Yesus di malam hari, bertanya dengan tenang, 'Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang sebelum ia didengar?' Ia tidak membela Yesus mati-matian. Ia hanya meminta satu hal yang adil: dengarkan dulu, baru nilai.
Dan jawaban yang ia terima justru prasangka yang sama, 'Apakah engkau juga orang Galilea?' Sekali label ditempel, siapa pun yang membela ikut dicurigai.
Kita hidup di zaman yang cepat sekali menempel label. Sekali membaca satu kalimat tentang seseorang, kita merasa berhak menyimpulkan seluruh hidupnya.
Siapa yang sudah terlanjur kita vonis tanpa pernah sungguh mendengarkannya?
Tuhan, tahan lidahku dari menghakimi sebelum mendengar. Beri aku hati Nikodemus yang berani meminta keadilan. Amin.