‹ Semua renungan

Minggu, 9 Maret 2031

Turun dari Gunung

Pernahkah Anda naik ke tempat tinggi lalu enggan turun? Udara sejuk, pemandangan luas, dunia di bawah terlihat kecil dan jauh. Rasanya ingin mendirikan tenda dan tinggal saja di situ.

Itu persis yang dirasakan Petrus di atas gunung. Wajah Yesus berubah, pakaian-Nya putih berkilau, Musa dan Elia menampakkan diri. Petrus, yang tidak tahu harus berkata apa, menawarkan sesuatu yang sangat manusiawi: 'Baiklah kami dirikan tiga kemah.' Ia ingin membekukan saat itu. Ia ingin tinggal di puncak selama-lamanya.

Tetapi awan datang, suara terdengar, 'Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia,' dan ketika semua reda, tampaklah Yesus tinggal seorang diri. Tidak ada kemah. Mereka harus turun. Sebab di kaki gunung ada Yerusalem, ada salib, ada tugas yang menunggu.

Bacaan Pertama membawa kita ke malam Abram. Tuhan mengajaknya keluar dan berkata, 'Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang.' Lalu janji itu turun: sebanyak itulah keturunanmu. Abram percaya, dan itu diperhitungkan sebagai kebenaran. Tetapi perhatikan, sesudah janji yang megah itu, yang datang justru 'gelap gulita yang mengerikan'. Iman tidak berhenti di bintang. Ia harus melewati malam.

Inilah benang merahnya. Baik Abram maupun para murid diberi sekilas kemuliaan, lalu diminta berjalan kembali ke dalam gelap sambil memegang janji itu. Cahaya di gunung bukan untuk dinikmati sendiri di puncak, melainkan untuk menjadi bekal di lembah.

Rasul Paulus, dalam Bacaan Kedua, mengingatkan ke mana arah pendakian yang sebenarnya. 'Kewargaan kita adalah di dalam sorga.' Tubuh kita yang hina ini kelak akan diubah serupa dengan tubuh-Nya yang mulia. Jadi Transfigurasi bukan pertunjukan sekali lewat. Ia adalah bocoran akhir cerita, foto masa depan kita sendiri. Apa yang para murid lihat sekilas di puncak itu adalah janji tentang tubuh kita sendiri kelak, ketika Kristus menyelesaikan seluruh pekerjaan-Nya dan memuliakan apa yang sekarang masih hina dan fana.

Maka setiap kali kita turun dari 'gunung', dari retret yang menyentuh, dari misa yang khusyuk, dari doa yang terasa dekat, kita tidak turun dengan tangan kosong. Kita membawa satu kalimat sebagai bekal: dengarkanlah Dia.

Ke lembah mana Tuhan sedang meminta kita turun minggu ini, sambil membawa serta cahaya yang sempat kita rasakan di puncak?

Tuhan Yesus, terima kasih untuk sekejap cahaya yang Kauberikan. Kuatkanlah aku menuruni gunung sambil memegang janji-Mu, sampai aku serupa dengan Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →