Rabu, 8 Januari 2031
Kasih yang Berhenti di Mulut
Kemarin surat Yohanes membedakan anak-anak Allah dari anak-anak Iblis dengan satu ukuran sederhana, yaitu mengasihi saudara. Hari ini ia melanjutkan, dan ukuran itu ia pertajam. 'Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.'
Kita semua kenal kasih jenis pertama. Kasih yang berhenti di mulut. 'Kapan-kapan mampir, ya.' 'Kalau butuh apa-apa, bilang saja.' Kalimat-kalimat manis yang tak pernah menjelma jadi langkah kaki. Murah diucapkan, tak berbekas.
Yohanes memberi contoh yang menusuk. 'Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan, tetapi menutup pintu hatinya, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?' Ia tidak bicara soal orang jahat yang menendang si miskin. Ia bicara soal orang biasa yang cuma menutup pintu. Tidak berbuat apa-apa pun bisa jadi bentuk penolakan.
Kasih sejati selalu punya tangan dan kaki. Ia mengantar makanan, menengok yang sakit, meminjamkan bahu. Ia repot. Sebab kasih yang tidak pernah merepotkan diri biasanya bukan kasih, melainkan cuma niat baik yang nyaman.
Hari ini adakah kebaikan yang sudah lama kuucapkan, tetapi belum pernah kuantar sampai ke pintu orang?
Tuhan, jangan biarkan kasihku berhenti di lidah. Beri aku tangan yang mau repot dan kaki yang mau melangkah. Amin.