Rabu, 4 Desember 2030
Meja yang Disiapkan
Bayangkan sebuah hajatan besar. Meja panjang, masakan yang bergemuk, anggur yang tua benar. Tuan rumah tidak menghitung porsi, tidak takut kehabisan. Semua diundang, dari segala bangsa, sampai kenyang. Itulah gambar yang dipakai Nabi Yesaya untuk melukiskan keselamatan. Bukan aturan yang kaku, melainkan perjamuan yang berlimpah.
Dan di meja itu ada yang lebih menakjubkan daripada makanan. Tuhan, kata nabi, akan meniadakan maut untuk seterusnya. Ia akan menghapus air mata dari segala muka. Perjamuan tempat tak seorang pun pulang lapar, dan tak seorang pun pulang menangis.
Injil hari ini seperti cicipan kecil dari pesta itu. Di tempat sunyi, tanpa warung, tanpa pasar, Yesus tergerak oleh belas kasihan. Ia tidak tega menyuruh orang banyak pulang dengan perut kosong. Tujuh roti dan beberapa ikan cukup, bahkan bersisa tujuh bakul. Tuhan memang tidak pandai menghitung dengan cara kita. Ia hanya tahu memberi sampai lebih.
Hari ini kita mengenang Beato Dionisius dan Redemptus, dua martir yang darahnya tertumpah di bumi Nusantara. Mereka sudah lebih dulu duduk di perjamuan yang tak berkesudahan itu. Apakah kita juga sedang berjalan ke meja yang sama?
Tuhan, Engkau menyiapkan meja yang tak pernah kurang. Tuntunlah aku sampai ke perjamuan-Mu, tempat air mata terakhir dihapus. Amin.