Selasa, 12 November 2030
Tanpa Tepuk Tangan
Sebelum kota bangun, penyapu jalan sudah bekerja. Tidak ada yang menonton, tidak ada yang bertepuk tangan. Jalanan bersih, dan justru karena bersih, tidak seorang pun sadar bahwa ia pernah lewat di situ.
Yesus hari ini bercerita tentang hamba yang pulang dari ladang dan masih harus menyiapkan makan tuannya. Setelah semuanya selesai, kata Yesus, hendaklah ia berkata: kami adalah hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. Kalimat ini terasa keras di zaman yang gemar memajang jasa dan menghitung pencapaian.
Padahal justru di situ kebebasannya. Orang yang melayani demi pujian itu rapuh: sekali tidak diapresiasi, ia padam. Orang yang melayani karena kasih menjadikan tepuk tangan sekadar bonus, bukan bahan bakar. Paulus mengingatkan Titus: kasih karunia Allah yang menyelamatkan sudah nyata lebih dahulu. Kita bekerja bukan untuk membeli surga, melainkan karena sudah dikasihi duluan.
Kemarin para rasul meminta iman ditambah. Hari ini Yesus menjaga iman itu agar tidak berubah menjadi daftar prestasi. Santo Yosafat, uskup yang kita kenang hari ini, menunaikan tugasnya mempersatukan umat sampai nyawanya sendiri menjadi taruhannya. Tugas selesai, tanpa menagih upah.
Pertanyaan hari ini pendek saja: masihkah aku ikhlas berbuat baik bila tidak ada yang melihat?
Tuhan, bebaskanlah aku dari lapar akan pujian, dan cukupkanlah aku dengan senyum-Mu yang tersembunyi. Amin.