‹ Semua renungan

Minggu, 10 November 2030

Ibu Masih Kenyang

Ada kalimat ibu yang baru kita pahami setelah dewasa: sudah, makan saja, ibu masih kenyang. Waktu kecil kita percaya begitu saja. Bertahun-tahun kemudian barulah kita tahu, ibu tidak kenyang. Ibu memberi dari kekurangannya, dan memberi sambil tersenyum.

Dua janda dalam bacaan hari ini adalah ibu semacam itu. Janda di Sarfat hanya punya segenggam tepung dan sedikit minyak, rencana makan terakhir sebelum mati bersama anaknya. Elia justru meminta dibuatkan roti lebih dahulu. Permintaan yang kelewatan, kalau dipikir dengan akal dagang. Tetapi perempuan itu melakukannya. Dan tepung dalam tempayan tidak habis, minyak dalam buli-buli tidak berkurang.

Janda di Bait Allah lebih senyap lagi. Ia memasukkan dua peser, uang paling receh, di antara gemerincing persembahan orang kaya. Tidak ada yang menoleh. Kecuali satu: Yesus memanggil murid-murid-Nya khusus untuk menunjuk perempuan itu. Janda miskin ini memberi lebih banyak dari semua orang, sebab yang lain memberi dari kelimpahannya, ia memberi dari kekurangannya, seluruh nafkahnya.

Minggu lalu kita mendengar Yesus dan seorang ahli Taurat sepakat tentang hukum yang terutama: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Hari ini dua janda memperagakan arti kata segenap. Bukan sebagian yang aman, melainkan semuanya.

Matematika iman memang aneh. Memberi dari kelimpahan itu perhitungan: sisa masih banyak, hidup tetap terjamin. Memberi dari kekurangan itu iman: yang menjamin hidupku bukan sisa uangku, melainkan Allah. Kedua janda itu tidak sedang nekat. Mereka sedang percaya.

Surat Ibrani menunjukkan dari mana matematika itu berasal. Kristus tidak mempersembahkan sebagian, apalagi sisa. Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri, satu kali untuk selama-lamanya. Dua peser janda itu adalah gema kecil dari kurban besar itu, dan mungkin karena itulah Yesus begitu terharu melihatnya.

Kita tidak harus menunggu kaya untuk murah hati. Justru sebaliknya: kemurahan hati paling murni sering keluar dari tangan yang tidak penuh. Maka baiklah bertanya di awal pekan ini: aku biasanya memberi dari mana? Dari kelimpahan yang tidak terasa, atau pernahkah sekali saja dari kekurangan yang terasa?

Tuhan, ajarilah aku memberi seperti kedua janda itu: bukan dari sisa, melainkan dari percaya. Sebab Engkau sendiri telah memberikan segalanya bagiku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →