Selasa, 25 Juni 2030
Membentangkan Surat
Raja Hizkia menerima surat ancaman. Isinya menakutkan. Raja Asyur yang perkasa mengejek, meremehkan Tuhan, dan bersumbar akan menghancurkan Yerusalem seperti ia telah menghancurkan bangsa-bangsa lain. Surat itu dirancang untuk mematahkan semangat.
Apa yang dilakukan Hizkia? Ia tidak membalas dengan surat tandingan. Ia tidak buru-buru mengumpulkan tentara. Ia melakukan sesuatu yang sederhana dan dalam. Ia membawa surat itu ke rumah Tuhan, lalu membentangkannya di hadapan Tuhan.
Bayangkan adegan itu. Seorang raja berlutut, menghamparkan lembaran ancaman itu di lantai bait, seakan berkata, 'Tuhan, inilah yang kuhadapi. Bacalah sendiri. Aku tak sanggup menanggungnya seorang diri.'
Betapa jujur dan betapa lega cara berdoa seperti ini. Hizkia tidak berpura-pura kuat. Ia tidak menyembunyikan ketakutannya. Ia hanya membeberkan seluruh persoalan itu di hadapan Tuhan, apa adanya.
Kita sering melakukan sebaliknya. Ketika surat ancaman datang, entah berupa hasil diagnosis, tagihan, atau perselisihan, kita menggenggamnya erat-erat. Kita membolak-baliknya sendirian di tengah malam, sampai ketakutan membesar. Kita lupa membentangkannya di hadapan Tuhan.
Dalam Injil, Yesus berkata pintu menuju kehidupan itu sesak dan jalannya sempit. Salah satu kesempitan itu adalah belajar tidak memanggul sendiri apa yang seharusnya kita serahkan. Jalan yang sempit mengajak kita berlutut.
Hari ini, surat ancaman apa yang masih kita genggam sendirian, yang sebenarnya perlu kita bentangkan di hadapan Tuhan?
Tuhan, aku sering menggenggam ketakutanku sendirian sampai ia membesar. Ajarilah aku membentangkan seluruh persoalanku di hadapan-Mu, seperti Hizkia, dan percaya bahwa Engkau membaca dan bertindak. Amin.