‹ Semua renungan

Minggu, 23 Juni 2030

Harta dalam Periuk Tanah

Bayangkan sebuah harta yang sangat berharga, disimpan bukan dalam peti besi berlapis emas, melainkan dalam periuk tanah liat yang murah. Periuk yang mudah retak, gampang pecah, dibeli di pasar dengan harga tak seberapa.

Itulah gambar yang dipakai Paulus. 'Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.' Harta ilahi sengaja dititipkan dalam wadah yang rapuh, supaya jelas bahwa kemuliaannya bukan dari wadahnya.

Hari raya Tubuh dan Darah Kristus mengajak kita merenungkan hal yang serupa. Yesus memilih hadir bukan dalam kilau yang megah, melainkan dalam sepotong roti. Roti, makanan paling sederhana, yang ada di setiap meja, yang dipecah-pecah dan dibagi. Allah yang mahakuasa memilih tinggal dalam rupa yang bisa dipegang tangan dan dikunyah. Bejana tanah liat sekali lagi.

Ada logika yang tetap di sini. Allah kita gemar bersembunyi dalam yang kecil dan biasa. Dalam palungan, dalam roti, dalam periuk tanah. Bukan karena Ia tak sanggup tampil megah, melainkan karena Ia ingin dekat, ingin dicerna, ingin menjadi bagian dari tubuh kita sendiri.

Dalam Injil, orang Farisi mempersoalkan murid-murid yang memetik gandum pada hari Sabat. Yesus menjawab dengan kalimat yang membebaskan, 'Hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat.' Kata Sabat sendiri berarti berhenti. Hari untuk berhenti, beristirahat, dan diberi makan oleh Tuhan. Bukan beban tambahan, melainkan meja yang disediakan.

Kedua hal ini bertemu pada Ekaristi. Di sana Tuhan berhenti bersama kita, dan memberi diri-Nya sebagai makanan. Bukan roti yang kita naikkan kepada Allah, melainkan roti yang Allah turunkan kepada kita.

Kita mudah menganggap remeh yang biasa. Roti kecil di altar itu tampak terlalu sederhana untuk menampung Tuhan. Tetapi justru di situ letak kejutannya. Yang mahabesar rela dimuat dalam yang mahasederhana.

Dan kalau Tuhan sudi tinggal dalam roti dan periuk tanah, mungkin Ia juga sudi tinggal dalam diri kita yang rapuh dan retak ini.

Hari ini, sudahkah kita menghargai harta besar yang Tuhan titipkan dalam wadah-wadah sederhana di sekeliling kita, termasuk dalam diri kita sendiri?

Tuhan Yesus, Engkau memilih hadir dalam roti yang sederhana dan dalam bejana tanah liat yang rapuh. Ajarilah kami mengenali-Mu dalam yang kecil dan biasa, dan jadikan tubuh kami yang rapuh tempat kediaman-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →