‹ Semua renungan

Sabtu, 22 Juni 2030

Menjadi Apakah Anak Ini?

Kelahiran seorang bayi selalu membawa satu pertanyaan yang sama, diucapkan atau tidak: menjadi apakah anak ini nanti? Para tetangga Zakharia dan Elisabet mengucapkannya terang-terangan setelah rentetan peristiwa aneh seputar kelahiran itu.

Ada yang menarik. Ketika tiba saatnya menamai bayi, semua orang menganggap sudah pasti ia akan dinamai Zakharia, mengikuti nama ayahnya. Begitulah kebiasaan. Tetapi Elisabet menolak, 'Jangan, ia harus dinamai Yohanes.' Nama yang tidak ada dalam garis keluarga.

Zakharia, yang sejak lama bisu, meminta batu tulis dan menuliskan, 'Namanya adalah Yohanes.' Seketika mulutnya terbuka dan ia memuji Allah.

Nama Yohanes berarti Tuhan berkenan, atau Allah menaruh rahmat. Sejak namanya, anak ini sudah menjadi tanda bahwa Allah bermurah hati. Ia tidak akan meneruskan nama ayahnya, karena ia diutus untuk sesuatu yang baru.

Dalam bacaan pertama, sang hamba Tuhan berkata, 'TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.' Panggilan itu ternyata mendahului kelahiran. Sebelum kita bisa berbuat apa-apa, nama kita sudah disebut.

Kita sering mengira nilai hidup ditentukan oleh apa yang kelak kita capai. Tetapi sebelum Yohanes berkhotbah, sebelum ia membaptis siapa pun, ia sudah berharga, karena sudah dipanggil dan dinamai lebih dulu.

Hari ini, percayakah kita bahwa nama kita pun sudah disebut Tuhan, jauh sebelum kita sempat membuktikan apa-apa?

Tuhan, Engkau memanggil namaku sejak dari kandungan, sebelum aku berbuat apa-apa. Yakinkan aku bahwa aku berharga bukan karena capaian, melainkan karena Engkau lebih dulu menyebut namaku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →