‹ Semua renungan

Rabu, 14 November 2029

Sembilan yang Tak Kembali

Anak-anak di rumah diajari satu kebiasaan sejak dini: kalau diberi, bilang terima kasih. Orang Jawa mengajarkannya dengan lembut: matur nuwun. Kebiasaan kecil, tapi rupanya paling mudah menguap ketika kita dewasa.

Sepuluh orang kusta berteriak minta dikasihani, dan sepuluh-sepuluhnya disembuhkan. Yang kembali untuk berterima kasih hanya satu, dan ia justru orang Samaria, orang asing. Yesus sampai bertanya: bukankah kesepuluh orang tadi semuanya tahir? Di manakah yang sembilan?

Yang sembilan itu sebenarnya tidak melanggar apa-apa. Mereka justru taat: pergi menunjukkan diri kepada imam, persis seperti diperintahkan. Mungkin mereka lalu sibuk mengurus keterangan sembuh, merayakan bersama keluarga yang lama tak boleh mereka dekati. Sembuh, lalu selesai. Yang satu itu berbeda: ia merasa disentuh, bukan sekadar disembuhkan. Maka ia kembali, tersungkur, bersyukur dengan suara nyaring. Dan hanya kepadanya Yesus berkata: imanmu telah menyelamatkan engkau. Sepuluh orang sembuh. Satu orang selamat.

Syukur ternyata bukan basa-basi sesudah rezeki. Syukur adalah pintu yang mengubah pemberian menjadi perjumpaan. Berapa banyak kebaikan Tuhan pekan ini yang lewat begitu saja tanpa kutengok kembali?

Tuhan, jangan biarkan aku hanya menikmati pemberian-Mu lalu berlalu. Jadikan syukur nafas imanku setiap hari. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →