‹ Semua renungan

Minggu, 14 Oktober 2029

Baju Pesta

Undangan pernikahan di kampung tidak pernah dianggap remeh. Orang bisa menolak rapat dan menunda pekerjaan, tetapi undangan pesta nikah tetangga dijalani meski hujan. Sebab hadir di pesta bukan sekadar makan; itu cara mengatakan: sukacitamu adalah sukacitaku.

Minggu lalu kita mendengar kisah kebun anggur yang berakhir muram: para penggarap membunuh anak pemilik kebun. Hari ini Yesus melanjutkan dengan gambar yang lebih hangat sekaligus lebih mengejutkan: Kerajaan Sorga seumpama raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Hidangan sudah siap, lembu tambun sudah disembelih. Lalu datang bagian yang tidak masuk akal: para undangan tidak mau datang. Ada yang pergi ke ladang, ada yang mengurus usahanya. Tidak ada yang membenci sang raja. Mereka hanya merasa ada urusan yang lebih penting.

Mungkin di situlah potret kita yang paling jujur. Iman jarang gugur karena perlawanan besar; lebih sering ia layu karena kesibukan yang wajar. Ladang dan usaha itu baik. Tetapi yang baik bisa menjadi penghalang bila membuat kita menyepelekan undangan Sang Raja.

Raja itu tidak membatalkan pesta. Ia menyuruh hamba-hambanya ke persimpangan jalan: undang siapa saja, orang jahat dan orang baik, sampai ruangan penuh. Inilah kabar gembira bagi kita yang merasa tidak masuk daftar tamu: perjamuan Allah terbuka bagi orang persimpangan. Yesaya sudah melihatnya jauh hari: di gunung Tuhan tersedia perjamuan bagi segala bangsa, dan di sana Allah akan meniadakan maut serta menghapuskan air mata dari segala muka.

Tetapi kisah itu ditutup dengan adegan yang mengganggu: seorang tamu tidak berpakaian pesta, dan ia dicampakkan keluar. Kejam? Tidak juga, bila kita mengerti maksudnya. Masuk memang cuma-cuma; berubah itu wajib. Baju pesta bukan soal kain, melainkan hati yang menyesuaikan diri dengan sukacita tuan rumah. Datang ke perjamuan sambil memeluk hidup lama yang tidak mau disentuh sama saja dengan menghina pesta itu.

Seperti apa baju pesta itu? Paulus, yang menulis dari penjara, memberi contohnya: "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Hati yang bersyukur dalam segala keadaan: itulah kain terbaik untuk menghadiri perjamuan Allah.

Setiap Ekaristi adalah cicipan awal perjamuan itu. Undangannya sudah di tangan kita. Pertanyaannya dua saja: apakah kita datang, dan dengan hati seperti apa kita datang?

Tuhan, jangan biarkan kesibukanku menolak undangan-Mu. Kenakanlah padaku baju pesta itu: hati yang bersyukur dan mau diubah. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →