Sabtu, 13 Oktober 2029
Anaknya Siapa Dulu
Di kampung, anak yang berhasil selalu mengangkat nama orang tuanya. "Pantas pintar, anaknya Bu Guru." "Anaknya siapa dulu," kata orang sambil tersenyum bangga. Orang Jawa merangkumnya dalam ungkapan mikul dhuwur: menjunjung tinggi nama orang tua.
Hal itu pula yang terjadi dalam Injil hari ini. Kemarin Yesus berbicara keras tentang kerajaan yang terpecah dan rumah yang kosong. Di tengah suasana panas itu, seorang perempuan berseru dari kerumunan: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau!" Pujian yang tulus dan sangat manusiawi.
Yesus tidak menolaknya. Ia memperluasnya: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya." Kebahagiaan Maria bukan pertama-tama soal rahim, melainkan soal hati yang berkata "terjadilah padaku menurut perkataanmu". Hubungan darah tidak bisa diwariskan kepada kita, tetapi hubungan ketaatan bisa. Pintu kebahagiaan itu terbuka untuk semua orang.
Maka pujian perempuan itu diam-diam menjadi undangan bagi kita. Firman yang kita dengar hari ini akan lewat begitu saja atau dipelihara? Mendengar itu sebentar; memelihara itu seumur hidup.
Tuhan, berilah aku hati seperti Maria: mendengarkan firman-Mu dan menyimpannya sampai berbuah. Amin.