Kamis, 11 Oktober 2029
Kebun Mawar di Ujung Jari
Perhatikan tangan seorang nenek yang berdoa rosario. Bibirnya nyaris tak bergerak, tetapi jarinya berjalan pelan dari biji ke biji, seperti orang menyusuri jalan setapak yang sudah ia hafal puluhan tahun. Tidak tergesa. Tidak bosan.
Kemarin Yesus mengajarkan Bapa Kami. Hari ini Ia melanjutkan dengan cerita tentang orang yang mengetok pintu sahabatnya tengah malam demi tiga roti, dan tidak berhenti mengetok sampai pintu dibuka. Lalu kata-Nya: mintalah, carilah, ketoklah. Doa, rupanya, lebih mirip ketekunan daripada kefasihan.
Hari ini kita merayakan Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Kata rosario berasal dari bahasa Latin rosarium, kebun mawar. Satu Salam Maria memang cuma sekuntum. Tetapi lima puluh kuntum yang dirangkai tiap hari, bertahun-tahun, menjadi kebun yang harumnya memenuhi hidup. Doa berulang bukan tanda kehabisan kata; ia tanda kesetiaan, seperti ketokan yang tidak menyerah di pintu tengah malam.
Dan janji Yesus melampaui tiga roti: Bapa akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Yang dijamin bukan terkabulnya semua keinginan, melainkan pemberian terbaik itu. Bulan Oktober ini, maukah kita mulai menanam kebun mawar itu, sebiji demi sebiji?
Bapa, berilah aku ketekunan orang yang terus mengetok, dan Roh Kudus sebagai jawaban-Mu. Amin.