Minggu, 7 Oktober 2029
Anggur Asam dari Kebun Pilihan
Petani mana pun tahu sakitnya: sudah mencangkul, memupuk, menjaga dari hama, lalu panen datang dan hasilnya mengecewakan. Padi hampa. Buah masam. Rasanya seperti dikhianati oleh tanah sendiri.
Yesaya hari ini menyanyikan lagu tentang rasa sakit semacam itu, tetapi yang punya kebun adalah Allah. Ia memilih lereng subur, mencangkul, membuang batu, menanam anggur pilihan, mendirikan menara jaga, menggali tempat pemerasan. Semua sudah dikerjakan. "Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya?" Lalu datang panen: anggur asam. Yesaya membuka artinya tanpa basa-basi: kebun itu Israel; Allah menanti keadilan, yang tumbuh kelaliman.
Minggu lalu Yesus bercerita tentang dua anak yang disuruh bekerja di kebun anggur. Hari ini Ia kembali ke kebun yang sama, dan kisahnya makin gelap. Para penggarap memukul utusan, membunuh yang lain, akhirnya membunuh anak sang pemilik demi merebut warisan. Padahal yang dituntut pemilik sederhana: hasil pada waktunya. Bukan kebunnya diminta kembali, hanya buahnya. Tetapi hati yang ingin memiliki segalanya tidak tahan melihat dirinya cuma penggarap.
Di sinilah kita perlu jujur. Hidup, keluarga, kesehatan, pekerjaan, bahkan iman: semuanya kebun titipan. Kita penggarap, bukan pemilik. Pertanyaan tahunan pemilik kebun kepada kita bukan "berapa luas kebunmu", melainkan "mana buahnya". Buah itu, kata Yesaya, bernama keadilan. Kebaikan yang bisa dirasakan orang lain.
Lalu bagaimana supaya kebun hati kita tidak menghasilkan anggur asam? Paulus memberi resep perawatannya kepada jemaat Filipi: jangan kuatir tentang apa pun, nyatakan segala keinginan dalam doa dengan ucapan syukur, dan pikirkanlah semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, dan sedap didengar. Buah mengikuti apa yang kita tanam dalam pikiran. Hati yang tiap hari diberi pupuk kecemasan, iri, dan kabar buruk jangan heran kalau panennya masam. Hati yang dirawat dengan syukur pelan-pelan menghasilkan anggur yang manis.
Bulan Oktober ini Gereja mengajak kita merawat kebun itu dengan cara yang sangat sederhana: rosario. Sepuluh biji demi sepuluh biji, seperti menyiangi rumput tiap sore. Kelihatannya kecil. Tetapi kebun yang disiangi tiap hari tidak akan sempat dikuasai semak.
Pemilik kebun itu sabar, namun Ia sungguh menanti. Tahun ini, hasil petik apa yang bisa kita serahkan kepada-Nya?
Tuhan, Pemilik kebun hidupku, jangan biarkan aku menyimpan hasil-Mu untuk diriku sendiri. Jadikan hatiku kebun yang menghasilkan buah keadilan pada waktunya. Amin.