‹ Semua renungan

Minggu, 30 September 2029

Iya, Nanti

Di rumah mana pun kalimat ini akrab: 'Iya, Bu, nanti.' Anak menjawab sopan, dan tetap duduk. Jawabannya sempurna, kakinya tidak bergerak. Para ibu sedunia tahu: iya nanti sering berarti tidak.

Perumpamaan Yesus hari ini pendek tapi menampar. Dua anak disuruh bekerja di kebun anggur. Yang sulung menjawab manis, 'Baik, bapa,' tetapi tidak pergi. Yang kedua kasar, 'Aku tidak mau,' tetapi kemudian menyesal lalu pergi juga. Siapakah yang melakukan kehendak ayahnya? Para pendengar menjawab benar: yang terakhir. Dan jawaban itu menjadi jerat bagi mereka sendiri, sebab merekalah si anak sulung: fasih beragama di bibir, diam di ladang. Sementara para pemungut cukai dan perempuan sundal, kaum yang hidupnya pernah berkata tidak mau dengan keras, justru percaya kepada Yohanes dan berjalan mendahului masuk Kerajaan Allah.

Yehezkiel menegaskan bahwa Allah menilai arah akhir langkah, bukan arsip masa lalu. Orang benar yang berbalik jahat mati dalam kecurangannya; orang fasik yang bertobat menyelamatkan nyawanya. Di hadapan Allah tidak ada nasib yang dikunci oleh hari kemarin. Yang menentukan bukan jawaban kita dahulu, melainkan ke mana kaki melangkah hari ini.

Lalu bagaimana menutup jarak antara mulut dan kaki? Paulus, yang minggu lalu mengajak jemaat hidup berpadanan dengan Injil, hari ini menunjuk teladan tertinggi. Kristus Yesus, walaupun dalam rupa Allah, tidak mempertahankan kesetaraan itu, melainkan mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Perhatikanlah: pada Yesus tidak ada jarak sehelai pun antara perkataan dan perbuatan. Ia tidak berkata iya kepada Bapa lalu duduk di tempat. Kata dan kaki-Nya satu arah: turun, melayani, sampai tuntas.

Kita semua pernah menjadi kedua anak itu bergantian. Kadang bersemangat berjanji lalu lupa; kadang menolak kasar lalu diam-diam menyesal dan mengerjakannya. Injil hari ini memberi kabar baik bagi jenis yang kedua: penyesalan yang menggerakkan kaki lebih berharga daripada janji yang berhenti di lidah.

Kepada ajakan Tuhan yang mana kita sudah terlalu lama menjawab iya, nanti?

Tuhan, satukanlah kata dan langkahku, seperti Putra-Mu yang taat sampai akhir. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →