Jumat, 21 September 2029
Tangan Pencatat
Perhatikan tangan seorang kasir pasar: cekatan menghitung, mencatat, menyimpan. Ketrampilan tidak pernah netral; ia mengikuti ke mana hati mengarah. Tangan yang sama bisa mencatat tagihan, bisa juga mencatat kabar baik.
Matius duduk di rumah cukai ketika Yesus lewat. Pemungut cukai zaman itu dibenci dua kali: dianggap pemeras sekaligus kaki tangan penjajah. Kepada orang seperti itulah Yesus berkata dua patah kata: 'Ikutlah Aku.' Dan Matius berdiri, lalu mengikut Dia. Tidak ada syarat, tidak ada masa percobaan.
Yang indah, Matius tidak membuang keahliannya. Tradisi mengenangnya sebagai penulis Injil. Tangan yang bertahun-tahun mencatat uang dan tagihan itu akhirnya mencatat sabda dan silsilah Sang Juruselamat. Yesus tidak menghapus masa lalu Matius; Ia mengarahkannya.
'Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.' Kalimat itu diucapkan di meja makan Matius, di tengah para pemungut cukai dan orang berdosa. Paulus melengkapinya dalam bacaan pertama: kepada kita masing-masing dianugerahkan kasih karunia, menurut ukuran pemberian Kristus. Setiap keahlian adalah bahan panggilan.
Keahlian apa yang ada di tangan kita, dan sedang mencatat untuk siapa?
Tuhan, seperti Matius, pakailah keahlianku yang biasa untuk karya-Mu yang luar biasa. Amin.