‹ Semua renungan

Minggu, 16 September 2029

Kalkulator Petrus

Petrus datang kepada Yesus seperti orang yang membawa kalkulator. 'Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku? Sampai tujuh kali?' Ia merasa sudah sangat murah hati; tujuh itu angka sempurna, jauh di atas kebiasaan orang. Jawaban Yesus mematahkan kalkulatornya: tujuh puluh kali tujuh kali. Bukan supaya kita menghitung sampai 490, melainkan supaya kita berhenti menghitung sama sekali.

Minggu lalu kita belajar menegur saudara demi mendapatkannya kembali. Minggu ini pertanyaannya melangkah lebih jauh: kalau ia bersalah lagi, dan lagi, sampai kapan? Yesus menjawab dengan cerita yang timbangannya sengaja dibuat timpang. Seorang hamba berhutang sepuluh ribu talenta kepada rajanya. Satu talenta saja setara upah ribuan hari kerja; sepuluh ribu talenta artinya hutang yang mustahil dilunasi tujuh keturunan. Raja itu menghapusnya. Semua. Lalu hamba yang sama keluar dan mencekik kawannya karena hutang seratus dinar, upah kerja tiga bulan.

Kita gampang marah pada hamba itu. Tetapi cerita ini cermin, bukan tontonan. Sepuluh ribu talenta itu kita di hadapan Allah. Seratus dinar itu orang lain di hadapan kita. Setiap kali kita berkata 'saya tidak bisa memaafkan dia', sebenarnya kita sedang mencekik seseorang di halaman istana, hanya beberapa langkah setelah hutang kita sendiri dihapuskan.

Sirakh menyodorkan pertanyaan yang sama dari sisi lain: bagaimana orang dapat memohon penyembuhan pada Tuhan, jika ia menyimpan amarah kepada sesama manusia? Dendam, katanya, sangat mengerikan; dan yang dikuasainya orang berdosa. Lalu ia memberi obat yang jarang kita pikirkan: ingatlah akan akhir hidup. Di hadapan maut, dendam kelihatan wujud aslinya: beban yang kita pikul sendirian, sementara orang yang kita dendami mungkin tidur nyenyak.

Paulus menutup dengan alasan terdalam: tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri. Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Kalau saya milik Tuhan, maka daftar kesalahan orang terhadap saya pun bukan milik saya lagi; daftar itu sudah pindah tangan.

Mengampuni memang jarang selesai sekali jalan. Ia lebih mirip mencuci luka: diulang, perih, diulang lagi. Tujuh puluh kali tujuh kali, sampai bersih.

Siapa nama yang masih kita simpan dalam hitungan dendam hari ini?

Tuhan, hutangku kepada-Mu telah Kauhapus; berilah aku hati yang berhenti menghitung kesalahan orang kepadaku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →