Senin, 18 Juni 2029
Mil Kedua
Di jalan raya, hukum yang paling banyak dianut bukan undang-undang lalu lintas, melainkan hukum balas: disalip, menyalip balik; diklakson, mengklakson lebih panjang. Rasanya adil. Mata ganti mata memang terdengar adil.
Yesus hari ini mengutip hukum kuno itu, lalu membongkarnya: janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Ditampar pipi kanan, berikan pipi kiri. Dipaksa berjalan satu mil, berjalanlah dua mil. Aturan satu mil itu nyata pada zamannya: serdadu Romawi berhak memaksa penduduk memikul bebannya sejauh satu mil. Mil pertama adalah paksaan. Tetapi mil kedua? Mil kedua tidak bisa dipaksakan siapa pun. Mil kedua adalah wilayah kemerdekaan.
Di situlah kejeniusan ajaran ini. Orang yang hanya membalas sebenarnya dikendalikan oleh yang menyakitinya. Orang yang menambahkan mil kedua merebut kembali kemudi hidupnya. Ia berbuat baik bukan karena keadaan, melainkan karena pilihan.
Paulus dalam bacaan pertama memperagakan hidup semacam itu: ketika dihina, ketika diumpat, ia menjawab dengan kesabaran dan kemurahan. Dan ia mengingatkan: hari ini adalah hari penyelamatan. Bukan besok, saat suasana sudah enak.
Hari ini, siapa yang memaksa kita berjalan satu mil? Cobalah tawarkan mil yang kedua.
Tuhan, bebaskanlah aku dari hukum balas, dan berilah aku kegembiraan orang yang memberi lebih dari yang diminta. Amin.