‹ Semua renungan

Minggu, 17 Juni 2029

Musim Panen

Setiap musim panen, sawah-sawah menghadapi soal yang sama: padi menguning serentak, tenaga pemanen tidak pernah cukup. Gabah yang terlambat dituai akan rebah dimakan hujan. Pemilik sawah pun berkeliling kampung mencari orang. Bukan mencari yang paling ahli. Mencari yang mau.

Gambar itulah yang dipakai Yesus hari ini. Ia berkeliling dan melihat orang banyak: lelah dan terlantar seperti domba tanpa gembala. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Lalu keluarlah kalimat yang terkenal itu: tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Perhatikanlah, Yesus tidak berkata benihnya kurang atau tanahnya tandus. Yang kurang hanya satu: orang yang mau turun ke sawah.

Dan cara Yesus mengatasinya sungguh di luar dugaan. Ia tidak merekrut para ahli Taurat terbaik. Ia memanggil dua belas nama yang nyaris semuanya biasa-biasa saja: nelayan, orang desa, bekas pemberontak. Minggu lalu kita mendengar Yesus makan di rumah Matius si pemungut cukai; Minggu ini nama Matius tercantum resmi dalam daftar dua belas rasul, lengkap dengan keterangan yang tidak disembunyikan: Matius pemungut cukai. Riwayat kelam tidak dihapus. Riwayat kelam justru dipakai.

Bacaan pertama memperlihatkan bahwa pola ini sudah tua. Di kaki gunung Sinai Allah berkata kepada Israel, bangsa budak yang baru dibebaskan: kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Imam artinya penghubung Allah dan manusia. Jadi sejak awal Allah tidak pernah berencana bekerja sendirian. Ia selalu mengajak, mendukung di atas sayap rajawali, lalu mengutus.

Paulus dalam bacaan kedua menyingkapkan bahan bakarnya: Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Para pekerja tuaian bukanlah orang yang merasa berjasa, melainkan orang yang tahu dirinya pernah dituai. Yang pernah ditemukan akan ringan kakinya mencari yang hilang.

Kita gampang berhenti pada doa mohon panggilan: semoga Tuhan mengirim imam, katekis, dan pelayan yang banyak. Doa itu memang diminta Yesus sendiri. Tetapi hati-hati, doa itu sering pulang ke alamat pengirimnya. Siapa tahu pekerja yang kita doakan itu sedang membaca renungan ini. Tuaian di sekitar kita jelas: anak-anak yang tidak ada yang mengajari berdoa, orang sakit yang tidak ada yang menengok, kaum muda yang kebingungan arah. Ahli tidak diminta. Mau saja sudah cukup.

Tuhan yang empunya tuaian, hatiku sering menunggu orang lain bergerak. Utuslah aku, mulai dari sawah yang paling dekat dengan rumahku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →