‹ Semua renungan

Jumat, 15 Juni 2029

Periuk Tanah

Di dapur nenek dulu ada periuk tanah liat. Murah, gampang gempil, warnanya tidak menarik. Tetapi justru dari periuk itu keluar masakan yang paling harum. Orang menghargai isinya, bukan wadahnya.

Kemarin Paulus berbicara tentang terang Allah yang bercahaya di dalam hati kita. Hari ini ia menambahkan keterangan tempat: harta itu kami punyai dalam bejana tanah liat. Bukan brankas baja. Bukan guci emas. Tanah liat, yang retak kalau jatuh dan aus kalau dipakai. Mengapa Allah memilih wadah serapuh itu? Paulus menjawab sendiri: supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari kami.

Lalu mengalirlah kalimat-kalimat yang sudah menguatkan orang selama dua ribu tahun: ditindas namun tidak terjepit, habis akal namun tidak putus asa, dianiaya namun tidak ditinggalkan, dihempaskan namun tidak binasa. Itu bukan slogan orang kuat. Itu kesaksian periuk retak yang isinya tidak tumpah.

Kita sering menunda melayani karena merasa belum pantas: kurang pandai, kurang suci, banyak cacat. Padahal sejak awal Allah memang tidak mencari wadah yang sempurna. Ia mencari wadah yang mau diisi.

Tuhan, aku ini periuk tanah yang gempil di sana-sini. Isilah aku, dan biarlah keharuman-Mu yang tercium, bukan tanahku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →