‹ Semua renungan

Minggu, 10 Juni 2029

Embun dan Roti

Embun pagi itu indah. Rumput di halaman berkilau seperti ditaburi kaca halus. Tetapi tunggu saja sampai matahari naik sepenggalah. Hilang tanpa bekas, seolah tidak pernah ada.

Minggu lalu kita sudah mendengar nubuat Hosea ini, dan hari ini Gereja sengaja memperdengarkannya lagi: kasih setiamu seperti kabut pagi, dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar. Keluhan Allah itu ditujukan kepada Efraim dan Yehuda, tetapi jujur saja, alamatnya juga rumah kita. Semangat rohani kita memang mirip embun. Berkilau sehabis retret, menguap seminggu kemudian. Rajin berdoa saat susah, lupa saat lega. Niat baik hari Minggu jarang selamat sampai hari Rabu.

Menarik bahwa keluhan tentang kasih yang gampang menguap ini dibacakan justru pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Seakan-akan Gereja mau berkata: lihatlah jawaban Allah atas embun itu. Allah tidak menjawab kerapuhan kita dengan tuntutan yang lebih keras. Ia menjawabnya dengan makanan. Sesuatu yang sederhana, rutin, bisa disantap berulang-ulang. Ekaristi tidak dirancang sebagai pengalaman dahsyat sekali seumur hidup. Ia dirancang seperti makan: diulang, karena tubuh memang lapar lagi dan lagi.

Bukankah begitu cara kasih dirawat? Rumah tangga tidak dihidupi oleh pesta pernikahan yang megah, melainkan oleh sarapan bersama bertahun-tahun. Yang besar dan sekali lewat itu mengesankan; yang kecil dan berulang itulah yang menghidupi. Tuhan tahu kasih kita gampang menguap, maka Ia menyediakan meja yang selalu terbuka, supaya embun yang hilang tiap pagi bisa turun lagi tiap kali kita datang.

Paulus dalam bacaan kedua menunjuk Abraham, orang yang imannya justru tidak menguap padahal alasan untuk berharap sudah habis: tubuhnya renta, rahim Sara tertutup. Dari mana keteguhan macam itu? Bukan dari kerasnya tekad Abraham, melainkan dari kebiasaannya kembali dan kembali kepada janji Allah. Iman yang awet ternyata bukan iman yang tegang terus-menerus, melainkan iman yang rajin pulang.

Dan di Injil, Yesus makan di rumah Matius bersama para pendosa, lalu mengutip Hosea yang sama: yang Kukehendaki ialah belas kasihan, bukan persembahan. Meja itu masih terbuka hari ini, untuk kita yang kasihnya seperti embun.

Datanglah. Bukan karena kita setia, melainkan supaya kita pelan-pelan menjadi setia.

Tuhan Yesus, kasihku gampang menguap seperti embun pagi. Berilah aku makan lagi dan lagi dari meja-Mu, sampai kasih itu mendarah daging. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →