Jumat, 4 Mei 2029
Surat yang Melegakan
Ada kabar yang membuat bahu turun lega. Surat dari sekolah bahwa anak lulus. Pesan dari rumah sakit bahwa hasilnya baik. Kita membaca ulang barisnya, memastikan tidak salah, lalu menghela napas panjang. Beban yang lama menggantung akhirnya diangkat.
Jemaat di Antiokhia mengalami kelegaan serupa. Mereka sempat digelisahkan oleh ajaran yang menuntut macam-macam syarat tambahan supaya bisa diselamatkan. Lalu datanglah surat dari Yerusalem dengan satu kalimat yang membebaskan: kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu. Setelah membaca surat itu, kata Lukas, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan.
Menarik, keputusan itu dibuka dengan kata-kata: adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami. Roh Kudus tidak bekerja menambah-nambah aturan, melainkan menanggalkan beban yang tidak perlu. Ia meringankan, bukan memberati. Dan melegakan pula membayangkan bahwa Roh yang sama itu kini bekerja juga dalam hidup kita hari ini.
Kadang kita membayangkan hidup beriman sebagai daftar syarat yang makin panjang, sampai terasa mustahil. Padahal Injil justru datang untuk melegakan. Adakah beban buatan yang kita pikul sendiri, atau kita timpakan kepada orang lain, yang sebenarnya tidak diminta Tuhan?
Tuhan, tanggalkanlah dari pundakku beban yang tidak Engkau minta, dan ajarilah aku tidak memberati sesamaku dengan syarat yang bukan dari-Mu. Amin.