‹ Semua renungan

Jumat, 20 April 2029

Saulus, Saudaraku

Kemarin kita menemani Filipus membaptis seorang pembesar Etiopia di jalan yang sunyi. Hari ini Lukas membawa kita ke jalan yang lain, jalan ke Damsyik, tempat cahaya dari langit merebahkan seorang penganiaya.

Namun tokoh yang ingin saya tatap hari ini bukan Saulus, melainkan Ananias. Murid biasa di Damsyik ini disuruh Tuhan menemui orang yang paling ditakuti seluruh jemaat. Keberatannya sangat manusiawi: Tuhan, dari banyak orang telah kudengar betapa banyak kejahatan yang dilakukannya. Ia tahu persis risiko itu, dan ia tetap pergi.

Lalu perhatikan kata pertamanya ketika tangannya menyentuh si penganiaya: Saulus, saudaraku. Bukan interogasi, bukan syarat, bukan daftar dosa yang dibacakan. Saudaraku. Sebelum Saulus sempat membuktikan apa-apa, ia sudah diterima sebagai keluarga. Sesudah kata itu, sesuatu seperti selaput gugur dari matanya, dan ia dapat melihat lagi. Saya menduga bukan hanya mata Saulus yang terbuka hari itu. Mata jemaat juga sedang dibukakan: musuh bisa menjadi saudara.

Setiap pertobatan besar biasanya melibatkan dua mukjizat. Yang pertama, cahaya yang merobohkan orang berdosa. Yang kedua, yang jarang dipuji, keberanian seseorang untuk menyambutnya tanpa curiga. Tuhan masih mencari Ananias-Ananias baru: orang yang berani mengulurkan tangan kepada bekas pelukai dan mengucapkan kata yang mustahil itu, saudaraku.

Tuhan, berilah aku hati Ananias, yang taat melampaui takut dan mampu menyebut saudara kepada orang yang pernah kutakuti. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →