‹ Semua renungan

Jumat, 16 Februari 2029

Puasa yang Bocor

Pernahkah kita berpuasa dengan perut yang berhasil menahan lapar, tetapi lidah yang gagal menahan marah? Perut kosong, dosa jalan terus. Puasa macam itu seperti ember bocor: diisi susah payah, habis lewat lubang yang tidak dijaga.

Umat pada zaman Yesaya mengeluh: mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya? Jawaban Allah tajam: pada hari puasamu engkau masih mendesak-desak semua buruhmu, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi. Lalu Allah membeberkan puasa yang dikehendaki-Nya: membuka belenggu kelaliman, memerdekakan yang teraniaya, memecah roti bagi yang lapar.

Kata puasa dalam bahasa kita dipinjam dari bahasa Sanskerta, upawasa, yang kurang lebih berarti tinggal dekat, duduk mendekat. Menarik sekali. Puasa pada akarnya bukan urusan menjauhi makanan, melainkan mendekat kepada Tuhan. Dan Yesaya menambahkan: mendekat kepada Tuhan selalu berarti mendekat kepada sesama yang menderita.

Dalam Injil, Yesus menyebut diri-Nya mempelai. Selama mempelai hadir, sahabat-sahabatnya bersukacita. Puasa Kristiani lahir dari kerinduan kepada Sang Mempelai, bukan dari muka masam.

Maka periksalah puasa kita: sedang mendekatkan kita kepada siapa?

Tuhan, jadikanlah puasaku jalan mendekat kepada-Mu dan kepada saudaraku yang lapar. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →