‹ Semua renungan

Rabu, 14 Februari 2029

Koyakkan Hati, Bukan Baju

Hari ini toko-toko penuh cokelat dan bunga. Empat belas Februari, kata dunia, hari kasih sayang. Tetapi tahun ini umat Katolik datang ke gereja bukan untuk menerima bunga, melainkan abu di dahi. Dua perayaan bertabrakan di hari yang sama. Ataukah sebenarnya tidak bertabrakan?

Sebab keduanya berbicara tentang hal yang sama: hati. Nabi Yoel menyerukan: koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu. Pada zaman itu orang mengoyak pakaian sebagai tanda sesal. Tanda semacam itu bisa dipalsukan. Baju bisa dikoyak sementara hati tetap utuh, keras, tidak tersentuh. Maka Allah meminta yang tidak bisa dipalsukan: hati yang terbuka, retak, dan rela dibentuk kembali.

Yesus dalam Injil melanjutkan arah yang sama. Tiga latihan Prapaskah disebut satu per satu: sedekah, doa, puasa. Ketiganya baik, dan ketiganya bisa rusak oleh satu penyakit yang sama: keinginan untuk dilihat. Sedekah yang dicanangkan, doa di tikungan jalan, wajah muram yang sengaja dipertontonkan. Yesus menyebut mereka sudah mendapat upahnya. Tepuk tangan manusia adalah bayaran yang lunas seketika, dan habis seketika pula.

Sebaliknya: Bapamu melihat yang tersembunyi. Kalimat itu diulang sampai tiga kali, seperti detak jantung Rabu Abu. Yang tersembunyi justru yang paling dilihat Allah.

Di sinilah Rabu Abu dan hari kasih sayang bertemu. Bukankah cinta sejati memang begitu? Ia tidak butuh pamer. Suami yang setia tidak mengumumkan kesetiaannya setiap hari. Ibu yang bangun tengah malam merawat anaknya tidak minta disorot kamera. Cinta yang paling dalam bekerja di tempat tersembunyi. Kepada Allah pun demikian: Prapaskah adalah empat puluh hari mencintai dalam senyap.

Paulus menambahkan ketergesaan yang kudus: sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu, hari ini adalah hari penyelamatan itu. Jangan menunggu tahun depan untuk berbalik. Abu di dahi mengingatkan bahwa kita fana, dan justru karena fana, hari ini terlalu berharga untuk ditunda.

Maka terimalah abu itu seperti menerima tanda cinta. Allah tidak sedang mempermalukan kita dengan menyebut kita debu. Ia sedang mengajak kita pulang: berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

Empat puluh hari ke depan, latihan tersembunyi apa yang mau kita persembahkan kepada Dia yang melihat yang tersembunyi?

Bapa, koyakkanlah hatiku yang keras ini, dan biarlah puasaku menjadi surat cinta yang hanya Engkau yang membacanya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →