Rabu, 29 November 2028
Sehelai Rambut
Setiap pagi ada rambut yang tertinggal di sisir. Tidak ada yang menghitungnya, tidak ada yang menangisinya. Dari seluruh milik kita, rambut mungkin yang paling tidak pernah dipikirkan.
Justru benda sepele itulah yang dipakai Yesus untuk sebuah janji besar. Setelah menyebut daftar yang mengerikan, ditangkap, dianiaya, dihadapkan ke pengadilan, diserahkan oleh orang tua dan saudara sendiri, dibenci semua orang, bahkan beberapa akan dibunuh, Ia menutup dengan kalimat yang seperti bertentangan: tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.
Bagaimana mungkin? Dibunuh, tetapi rambut tidak hilang? Rupanya keamanan yang dijanjikan Yesus bukan bebas dari penderitaan, melainkan kepastian bahwa tidak ada bagian diri kita, sekecil apa pun, yang lepas dari genggaman Allah. Bahkan ruang pengadilan yang menakutkan itu dibalik-Nya menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.
Kitab Wahyu memperlihatkan ujung ceritanya: mereka yang menang berdiri di tepi lautan kaca, memegang kecapi Allah, menyanyikan nyanyian Musa dan nyanyian Anak Domba. Penderitaan ada batas waktunya. Nyanyian itu tidak.
Tuhan yang menghitung rambut di kepalaku, usirlah ketakutanku, dan buatlah aku bertahan sampai akhir. Amin.