Selasa, 3 Oktober 2028
Anak-Anak Guruh
Ditolak itu perih, apalagi ditolak saat kita merasa membawa niat baik. Reaksi pertama hati biasanya bukan sabar, melainkan ingin membalas. Kalau bisa, saat itu juga, dan setimpal.
Kemarin kita mendengar Yohanes melarang orang yang mengusir setan hanya karena orang itu bukan kelompoknya. Hari ini Yohanes muncul lagi, bersama Yakobus, dengan usul yang jauh lebih ngeri. Sebuah desa Samaria menolak menerima Yesus. Maka kata mereka: Tuhan, maukah Engkau kami menyuruh api turun dari langit membinasakan mereka? Pantas kalau kelak Yesus menjuluki keduanya anak-anak guruh.
Menarik, mereka merasa sedang membela Yesus. Semangat itu tampak rohani, seolah demi kehormatan Tuhan. Tetapi semangat yang haus membakar justru menunjukkan hati yang belum mengenal hati Gurunya.
Yesus berpaling dan menegur mereka. Lalu satu kalimat penutup yang mudah terlewat: mereka pergi ke desa yang lain. Penolakan itu tidak Ia balas dengan api, melainkan dengan langkah kaki. Ia berjalan terus.
Betapa sering kita ingin menurunkan api atas orang yang menolak, meremehkan, atau menyakiti kita. Padahal murid Yesus dikenali bukan dari seberapa panas amarahnya membela Tuhan, melainkan dari kesediaannya melangkah pergi tanpa dendam.
Hari ini, adakah 'api' yang diam-diam ingin kita turunkan atas seseorang, dan sebenarnya cukup kita ganti dengan melangkah pergi?
Tuhan, padamkan keinginanku membalas, dan berilah aku kaki yang rela berjalan terus. Amin.