Minggu, 1 Oktober 2028
Jurang yang Digali di Bumi
Di kota, pagar rumah punya bahasa sendiri. Makin makmur pemiliknya, sering makin tinggi temboknya. Ditambah kawat, ditambah kamera, ditambah tulisan 'Awas anjing galak'. Semua itu untuk satu tujuan diam-diam: supaya yang di dalam tidak perlu melihat yang di luar.
Injil hari ini bercerita tentang sebuah pintu semacam itu. Ada orang kaya berjubah ungu, setiap hari berpesta. Di depan pintunya tergeletak Lazarus, badannya penuh borok. Jaraknya cuma beberapa langkah. Tetapi jarak yang beberapa langkah itu tidak pernah sekali pun diseberangi.
Perhatikan satu hal kecil yang gampang terlewat. Dalam perumpamaan ini si miskin punya nama, Lazarus, sedangkan si kaya tidak. Padahal di dunia biasanya sebaliknya: orang berada yang namanya dikenal, orang melarat yang dilupakan. Di mata Allah, urutan itu dibalik.
Lalu keduanya mati, dan terbentanglah jurang yang tak terseberangi. Tetapi jurang itu bukan barang baru. Ia hanya kelanjutan dari pintu yang dulu setiap hari dilewati tanpa ditoleh. Jurang di seberang sana sudah mulai digali di sini, sesendok demi sesendok, setiap kali Lazarus dibiarkan di luar.
Amos sudah memperingatkan hal yang sama jauh sebelumnya. Celaka atas mereka yang berbaring di ranjang gading, menyantap anak domba pilihan, tetapi tidak berduka atas hancurnya bangsanya. Dosa mereka bukan kejahatan yang gaduh. Dosa mereka adalah tidak berduka. Hati yang tak lagi tersentuh oleh penderitaan yang berbaring di sebelah.
Minggu lalu Yesus berkata kita tidak dapat mengabdi kepada Allah sekaligus kepada Mamon. Hari ini kita melihat wajah orang yang telanjur memilih Mamon: bukan seorang penjahat, hanya orang yang terlalu nyaman untuk menoleh.
Paulus menunjuk arah lain kepada Timotius: kejarlah keadilan, kesalehan, kasih, kesabaran. Bertandinglah dalam pertandingan iman. Iman rupanya bukan soal apa yang kita timbun di dalam pagar, melainkan siapa yang berani kita pandang di luar pintu.
Barangkali pertanyaannya sesederhana ini: siapa 'Lazarus' yang tiap hari kita lewati, begitu dekat sampai kita tidak lagi melihatnya?
Tuhan, robohkanlah pagar dalam hatiku, dan bukalah mataku bagi yang tergeletak di depan pintuku. Amin.