Minggu, 10 September 2028
Rumah Setengah Jadi
Hampir setiap kampung punya satu: rumah yang berhenti dibangun. Tiang betonnya menghitam, besinya mencuat berkarat, rumput tumbuh di ruang tamu yang tidak pernah jadi. Ceritanya biasanya mirip. Semangat besar di awal, dana habis di tengah. Yang tersisa bukan rumah, melainkan tugu peringatan bahwa pemiliknya dulu lupa duduk menghitung.
Yesus rupanya akrab dengan pemandangan semacam itu. Siapakah yang mau mendirikan menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya? Sebab kalau dasar sudah diletakkan dan bangunan tidak selesai, semua orang yang lewat akan mengejek: orang itu mulai mendirikan, tetapi tidak sanggup menyelesaikannya.
Yang mengejutkan adalah saat kalimat itu diucapkan. Banyak orang sedang berduyun-duyun mengikuti Dia. Di puncak keramaian itu Yesus justru berbalik dan memasang harga: barangsiapa tidak memikul salibnya, tidak melepaskan diri dari segala miliknya, bahkan tidak menomorduakan keluarganya demi Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Kata membenci di situ adalah cara bahasa Timur untuk berkata mengutamakan yang satu di atas yang lain. Yesus tidak sedang mengusir orang; Ia sedang membedakan penggemar dari murid. Penggemar ikut selama gratis dan ramai. Murid ikut sesudah menghitung harganya.
Minggu lalu kita diajak memilih tempat terendah di pesta. Hari ini undangannya lebih dalam: duduk dan menghitung dengan jujur, sanggupkah aku membayar harga mengikuti Dia? Di sinilah bacaan pertama menolong. Kitab Kebijaksanaan mengaku terus terang: pikiran makhluk fana itu hina dan pertimbangannya tidak tetap. Siapa dapat mengenal kehendak Tuhan kalau Ia sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan dari atas? Artinya, duduk menghitung ala murid bukan sekadar kalkulasi otak. Ia adalah doa. Kita menghitung sambil menengadah.
Surat kepada Filemon memperlihatkan hitungan itu dalam satu kasus nyata. Paulus meminta Filemon menerima kembali Onesimus, budak yang lari, bukan lagi sebagai budak melainkan sebagai saudara yang kekasih. Bagi Filemon ini bukan teori: ada gengsi yang harus ditelan, ada hak hukum yang harus direlakan, ada tatanan sosial yang harus dilawan. Mengikut Kristus selalu turun sampai ke keputusan sekonkret itu.
Maka baiklah pekan ini kita duduk sebentar. Bukan menghitung tabungan, melainkan menghitung salib: apa yang selama ini membuat pengikutanku kepada Kristus berhenti sebagai rumah setengah jadi?
Tuhan, aku ingin menjadi murid, bukan sekadar penggemar. Berilah aku kebijaksanaan dari atas untuk menghitung, dan kesetiaan untuk menyelesaikan apa yang telah kumulai bersama-Mu. Amin.