Kamis, 27 Juli 2028
Berbahagialah Matamu
Dua orang bisa memandang hal yang sama dan melihat dengan cara yang berbeda. Di depan sepetak sawah, seorang hanya melihat lumpur dan kerja berat. Yang lain melihat nasi yang akan mengenyangkan banyak orang. Mata jasmani mereka sama. Yang berbeda adalah mata hati, cara mereka menanggap apa yang ada di depan.
Yesus berbicara tentang perbedaan itu. Kepada murid-murid Ia berkata, "Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya." Para murid berdiri di depan sesuatu yang dirindukan berabad-abad, dan mereka diberi karunia untuk menanggapnya.
Tetapi Yesus juga menyebut bahaya sebaliknya, mengutip Yesaya: "Kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap." Ada mata yang terbuka lebar tetapi tidak menangkap apa-apa, karena hatinya sudah menebal. Bukan karena kurang bukti, melainkan karena hati sudah tidak mau lagi tersentuh.
Nabi Yeremia menyingkap akar penebalan itu. Tuhan merindukan umat-Nya seperti merindukan cinta masa muda: "Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu." Ketika cinta yang mula-mula meredup, mata pun ikut meredup. Yang dulu membuat kita takjub lama-lama terasa biasa.
Apa yang ada di depan mataku setiap hari, yang sudah kuanggap biasa, padahal sebenarnya karunia yang dirindukan banyak orang?
Tuhan, sembuhkanlah mata hatiku. Buatlah aku menanggap kehadiran-Mu yang setiap hari ada di depanku. Amin.