Minggu, 4 Juni 2028
Bahasa Ibu
Perantau tahu rasanya. Bertahun-tahun tinggal di kota orang, fasih bahasa nasional, luwes bahasa pergaulan. Tetapi begitu di terminal terdengar logat kampung halaman, kepala menoleh sendiri. Ada yang bergetar di dada. Bahasa ibu selalu menemukan jalan pintas ke hati.
Mukjizat Pentakosta bekerja lewat jalan pintas itu. Ketika Roh Kudus turun seperti lidah-lidah api, para rasul berbicara dan orang-orang dari segala bangsa tercengang: bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri? Perhatikan arah mukjizatnya. Roh tidak membuat semua orang mendadak paham satu bahasa resmi surga. Roh membuat kabar baik menyapa setiap orang dalam bahasanya masing-masing, bahasa yang dipakai di negeri asalnya, bahasa yang dipelajarinya di pangkuan ibu.
Ini penting, sebab kita sering membayangkan kesatuan sebagai keseragaman. Satu gaya, satu selera, satu cara. Paulus dalam bacaan kedua meluruskan: ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh; tubuh itu satu justru karena anggotanya banyak dan tidak sama. Roh Kudus tidak menghapus perbedaan. Ia memakai perbedaan itu seperti dirigen memakai alat musik yang berlainan untuk satu lagu yang sama.
Dalam bahasa Ibrani, roh disebut ruah: angin, napas. Injil hari ini memperlihatkannya dengan sangat lembut. Yesus datang ke tengah murid-murid yang ketakutan di balik pintu terkunci, lalu mengembusi mereka: terimalah Roh Kudus. Seperti pada awal penciptaan Allah menghembuskan napas kehidupan, ciptaan baru pun dimulai dari embusan. Dan tugas pertama yang dititipkan bersama napas itu bukan keberanian berpidato, melainkan pengampunan. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni.
Maka kita boleh bertanya: bahasa apa yang dipakai Roh lewat hidup kita? Orang di sekitar kita belum tentu paham kosakata rohani. Tetapi semua orang mengerti bahasa sabar. Semua orang mengerti bahasa maaf. Semua orang mengerti bahasa hadir menemani di hari susah. Barangkali itulah bahasa-bahasa lain yang hari ini dirindukan dunia dari Gereja: bukan suara yang lebih keras, melainkan sapaan yang sampai ke hati, seperti logat kampung halaman di tengah terminal yang asing.
Datanglah, Roh Kudus. Penuhilah hatiku, dan ajarilah aku berbicara dalam bahasa yang dimengerti setiap orang: kasih. Amin.