Rabu, 15 Maret 2028
Rebutan Kursi Depan
Di setiap hajatan kampung ada pemandangan yang itu-itu saja: kursi deretan depan. Ada yang datang paling awal demi kursi itu. Ada yang tersinggung karena dipersilakan duduk di belakang. Kursinya sama-sama plastik, tetapi letaknya menentukan gengsi.
Ibu anak-anak Zebedeus datang kepada Yesus membawa urusan kursi. Ia meminta kedua anaknya duduk di kanan dan kiri Yesus dalam Kerajaan-Nya. Permintaan itu diajukan persis setelah Yesus berbicara tentang Yerusalem, tentang diolok-olok, disesah, disalibkan. Yesus bicara salib, mereka bicara kursi.
Jawaban Yesus membalik semuanya: barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya. Di Kerajaan-Nya, kursi kehormatan berbentuk kain lap dan baskom pembasuh kaki.
Keinginan duduk di depan itu manusiawi dan tua sekali umurnya. Yesus tidak mematikan keinginan menjadi besar. Ia hanya memindahkan arahnya: jadilah besar dalam melayani.
Di rumah, di tempat kerja, di lingkungan, kursi mana yang diam-diam sedang kuincar?
Tuhan Yesus, sembuhkanlah aku dari rebutan tempat terhormat, dan berilah aku sukacita orang yang melayani. Amin.