‹ Semua renungan

Rabu, 1 Maret 2028

Abu di Halaman

Membakar sampah di halaman itu pekerjaan yang aneh. Daun kering setinggi lutut, ranting, kertas bekas, semuanya menyala megah beberapa menit. Lalu selesai. Yang tersisa hanya abu segenggam, kelabu, ringan, diterbangkan angin sedikit saja hilang. Ke mana perginya tumpukan tadi?

Hari ini dahi kita ditandai abu. Gereja tidak sedang menghias kita. Ia sedang mengingatkan dengan jujur: engkau debu, dan akan kembali menjadi debu. Segala yang kita tumpuk bertahun-tahun, gelar, tabungan, nama baik, pada akhirnya bisa dibawa angin. Mengerikan? Justru melegakan. Sebab kalau semua itu bukan pegangan, kita bebas mencari pegangan yang sesungguhnya.

Nabi Yoel berseru: "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu." Orang zaman itu menyobek jubah sebagai tanda duka. Lama-lama sobekan itu menjadi pertunjukan. Kain robek, hati tetap utuh. Allah tidak tertarik pada kain. Ia meminta hati yang terbuka, retak, mau ditembus.

Karena itu Yesus dalam Injil hari ini mengulang satu kata sampai tiga kali: tersembunyi. Sedekah yang tersembunyi. Doa di kamar dengan pintu tertutup. Puasa dengan wajah dicuci bersih. Di zaman yang gemar memamerkan apa saja, ini ajakan yang hampir mustahil: berbuat baik tanpa penonton. Beranikah kita baik tanpa ada yang tahu?

Paulus menambahkan ketukan waktu: "Waktu ini adalah waktu perkenanan; hari ini adalah hari penyelamatan." Bukan tahun depan. Bukan nanti kalau hidup sudah longgar. Hari ini, selagi abu masih menempel di dahi.

Empat puluh hari terbentang di depan. Seperti halaman yang mau dibersihkan, ada tumpukan yang perlu dibakar: dendam yang dipelihara, kebiasaan yang menjauhkan dari Tuhan, kesibukan yang tidak menyisakan ruang doa. Apinya bukan api unggun, melainkan puasa, doa, dan sedekah. Ketiganya bekerja diam-diam.

Dan inilah rahasia abu yang jarang kita ingat: petani tahu, abu itu pupuk. Yang terbakar tidak sekadar hilang. Ia menyuburkan musim tanam berikutnya. Prapaskah bukan musim murung. Ia musim mengolah tanah hati, supaya pada pagi Paskah ada yang bertunas.

Tuhan, koyakkanlah hatiku yang keras ini. Ajarilah aku berbuat baik secara tersembunyi, berdoa di tempat sunyi, dan berpuasa dengan wajah cerah, agar Prapaskah ini menyuburkan imanku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →