Minggu, 30 Januari 2028
Ini Aku, Utuslah Aku
Ada pola yang berulang setiap kali Allah memanggil seseorang untuk tugas besar. Hampir selalu, orang yang dipanggil mula-mula merasa tidak layak. Bukan menyombongkan diri, melainkan justru mundur, merasa terlalu kecil, terlalu berdosa, terlalu biasa.
Ketiga bacaan hari ini seperti sengaja disusun untuk memperlihatkan pola itu. Nabi Yesaya, ketika melihat kekudusan Allah di Bait Suci, langsung berseru, "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir." Rasul Petrus, setelah menyaksikan tangkapan ikan yang ajaib, tersungkur di kaki Yesus, "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." Rasul Paulus dalam bacaan kedua menyebut dirinya "yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul."
Tiga orang besar, tiga pengakuan yang sama: aku tidak layak. Dan justru pengakuan itulah tanah tempat panggilan bertumbuh. Allah rupanya tidak mencari orang yang merasa dirinya hebat, melainkan orang yang jujur akan kekecilannya, lalu bersedia dipakai.
Perhatikan apa yang terjadi sesudah pengakuan itu. Kepada Yesaya, seorang serafim menyentuh bibirnya dengan bara, "kesalahanmu telah dihapus." Kepada Petrus, Yesus berkata, "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." Rasa tidak layak tidak dibiarkan menjadi alasan untuk mundur. Allah membersihkan, lalu mengutus.
Di sinilah banyak dari kita tersandung. Kita memakai perasaan belum cukup baik sebagai alasan untuk tidak melayani, tidak bersaksi, tidak melangkah. Padahal kalau kelayakan menjadi syarat, Yesaya, Petrus, dan Paulus pun gugur di awal. Yang Allah minta bukan kesempurnaan, melainkan kesediaan. Orang yang menunggu dirinya layak dulu baru mau melayani biasanya tidak pernah mulai, sebab hari itu tak kunjung tiba.
Yesaya menjawab dengan kalimat yang menjadi teladan sepanjang zaman: "Ini aku, utuslah aku!" Ia belum menjadi suci, tetapi ia bersedia. Petrus meninggalkan segala sesuatu, padahal baru saja mengaku berdosa. Kesediaan mereka lebih besar daripada rasa tidak layak mereka.
Hari ini Tuhan mungkin memanggil kita untuk sesuatu yang membuat kita berkata, "aku bukan orang yang tepat." Justru itu awal yang baik. Sebab Allah paling suka bekerja lewat tangan yang tahu dirinya kecil, tetapi mau berkata: ini aku.
Tuhan, aku sering merasa tidak layak untuk Kaupakai, dan itu memang benar. Tetapi bersihkanlah bibirku seperti bibir Yesaya, dan berilah aku keberanian untuk menjawab: ini aku, utuslah aku. Amin.