Minggu, 16 Januari 2028
Dibacakan Keras-keras
Membaca dalam hati dan mendengar sesuatu dibacakan keras-keras adalah dua pengalaman yang berbeda. Surat warisan dari orang tua yang sudah meninggal, misalnya, terasa lain ketika dibacakan lantang di depan seluruh keluarga. Ada yang menangis, ada yang terdiam. Kata-kata yang sama, tetapi dibacakan bersama, menyentuh lebih dalam.
Itulah yang terjadi di Yerusalem yang baru pulih dari pembuangan. Imam Ezra berdiri di atas mimbar kayu dan membacakan kitab Taurat "dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti." Seluruh umat berdiri, mengangkat tangan, dan menyambut, "Amin, amin!" Lalu terjadi sesuatu yang tak terduga: mereka menangis. Firman yang sekian lama tersimpan, ketika dibacakan bersama, membuka hati yang beku.
Menariknya, Nehemia dan Ezra tidak membiarkan tangis itu berlarut. "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" Mereka bahkan menyuruh umat pulang untuk makan enak dan "kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa." Firman yang sungguh didengar selalu berbuah dua arah: sukacita ke dalam, kemurahan ke luar.
Berabad-abad kemudian, di sebuah rumah ibadat di Nazaret, adegan yang mirip terulang. Yesus berdiri, membuka gulungan kitab nabi Yesaya, dan membaca, "Roh Tuhan ada pada-Ku, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan." Lalu Ia mengucapkan kalimat yang mengubah segalanya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."
Pada hari ini. Kitab Suci bukan barang museum, catatan masa lampau yang kita kagumi dari jauh. Ketika dibacakan, ia hidup, dan menuntut jawaban hari ini juga. Firman yang sama yang membuat umat Ezra menangis dan membuat orang Nazaret tercengang, dibacakan pula kepada kita setiap kali kita berkumpul.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa kita ini "satu tubuh" yang terdiri dari banyak anggota. Firman dibacakan bukan untuk didengar sendiri-sendiri, melainkan untuk mengikat kita menjadi satu, sebagaimana umat Israel berdiri bersama di depan mimbar Ezra. Telinga yang mendengar sabda yang sama, di ruang yang sama, pelan-pelan disatukan menjadi satu tubuh, betapapun berbeda-beda anggotanya.
Maka pertanyaannya bukan sekadar apakah kita membaca Alkitab, melainkan apakah kita sungguh mendengarnya, seakan ditujukan kepada kita, hari ini, saat ini juga.
Tuhan, buatlah firman-Mu tidak sekadar terdengar di telingaku, tetapi tergenapi dalam hidupku hari ini. Berilah aku hati umat Ezra: menangis oleh sabda-Mu, lalu bangkit dengan sukacita dan kemurahan. Amin.