Jumat, 14 Januari 2028
Ikut Ramai
Ada satu dorongan yang sangat manusiawi: ingin sama seperti orang lain. Tetangga membeli sesuatu, kita ikut membeli. Semua orang pergi ke satu arah, kita ikut, meski tidak tahu persis mengapa. Orang Jawa punya sindiran halus untuk kelakuan ini, melu grubyug ora ngerti rembug, ikut ramai-ramai tanpa paham perkaranya.
Israel meminta hal yang sama kepada Samuel: "angkatlah sekarang seorang raja atas kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain." Alasannya bukan kebutuhan, melainkan gengsi. Mereka ingin serupa dengan tetangga-tetangga mereka. Padahal justru keistimewaan Israel adalah bahwa Allah sendiri rajanya.
Samuel memperingatkan panjang lebar tentang harga yang harus dibayar: anak-anak mereka akan diambil, hasil ladang dipungut, kebebasan menyusut. Tetapi peringatan itu tak digubris. "Tidak, harus ada raja atas kami." Keinginan untuk sama seperti orang lain sering lebih kuat daripada akal sehat.
Yang menyedihkan, Tuhan berkata kepada Samuel, "bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak." Ikut-ikutan demi terlihat wajar bisa membuat kita diam-diam meninggalkan hal yang paling berharga: jati diri kita sebagai milik Allah.
Sebelum ikut arus hari ini, ada baiknya bertanya: apakah aku melangkah karena yakin, atau sekadar karena semua orang melangkah?
Tuhan, jagalah aku dari keinginan untuk sekadar sama seperti orang lain. Biarlah aku cukup menjadi milik-Mu, sekalipun itu membuatku tampak berbeda. Amin.