Kamis, 16 Desember 2027
Biar Gunung Beranjak
Pasangan yang sudah lima puluh tahun menikah jarang bicara soal cinta yang berapi-api. Yang mereka punya lebih sunyi dan lebih kuat: kesetiaan yang sudah teruji oleh sakit, kekurangan, dan tahun-tahun yang panjang. Rumah boleh bocor, anak-anak boleh merantau, tetapi dua orang itu tetap duduk semeja.
Bahasa semacam itulah yang dipakai Allah lewat Yesaya hari ini. Kepada umat yang merasa dibuang seperti istri yang ditinggalkan, Ia bersumpah: "Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu." Gunung adalah benda paling kokoh yang bisa dibayangkan manusia. Dan Allah berkata: itu masih bisa goyang; kasih-Ku tidak. Sumpah itu diikat dengan mengingat zaman Nuh: seperti air bah tidak akan meliputi bumi lagi, demikian murka-Nya tidak akan kembali.
Kemarin kita mendengar Yesus menjawab keraguan Yohanes yang bertanya dari penjara. Hari ini, setelah para utusan itu pergi, Yesus justru membela Yohanes di depan orang banyak: ia bukan buluh yang digoyangkan angin. Keraguan sesaat tidak menghapus kesetiaan seumur hidup. Tuhan menilai kita bukan dari hari terburuk kita.
Kalau kasih setia-Nya melebihi gunung, mengapa kita mengukurnya dengan suasana hati yang berubah setiap hari?
Tuhan, kasih setia-Mu lebih kokoh dari gunung. Tanamkanlah itu dalam hatiku yang gampang goyah. Amin.