Minggu, 14 November 2027
Membaca Musim
Petani jarang melihat kalender; ia melihat langit. Mendung menggantung di arah gunung, angin berubah arah, semut berbaris pindah sarang: hujan akan turun. Petani tua bahkan bisa mencium hujan dari bau tanah. Alam tidak pernah berteriak, tapi selalu memberi tanda bagi yang mau membacanya.
Injil hari ini terdengar mengerikan: matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, bintang-bintang berjatuhan, kuasa-kuasa langit goncang. Setiap zaman punya rasa kiamatnya sendiri: perang, wabah, bencana, kabar buruk yang datang bertubi. Dan setiap kali, selalu ada yang panik menghitung-hitung tanggal kedatangan-Nya.
Tapi perhatikanlah: di tengah gambaran sedahsyat itu, Yesus justru mengajak murid-murid menatap sesuatu yang sangat kecil dan sangat biasa: pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu musim panas sudah dekat. Ia tidak membagikan tanggal; Ia mengajarkan cara membaca. Bahkan tentang hari dan saat itu Ia berkata terus terang: Anak pun tidak tahu, hanya Bapa.
Maka sikap orang beriman di hadapan akhir zaman bukan meramal, bukan pula pura-pura semuanya akan baik-baik saja selamanya. Sikapnya seperti petani: membaca musim, lalu tetap menanam. Kitab Daniel menyebut mereka orang-orang bijaksana yang akan bercahaya seperti cahaya cakrawala: mereka yang di masa kesesakan tetap menuntun banyak orang kepada kebenaran. Bukan yang paling tahu tanggalnya, melainkan yang paling setia menjalankan tugasnya. Lampu mereka tetap menyala justru ketika langit paling gelap.
Minggu lalu kita menatap janda yang memberi seluruh nafkahnya. Bacaan kedua hari ini melanjutkan arah yang sama: Kristus telah mempersembahkan satu korban saja, satu kali untuk selama-lamanya, dan kini duduk di sebelah kanan Allah. Sejarah boleh bergolak sehebat apa pun; pusatnya sudah selesai dikerjakan. Karena itu Yesus berani berkata: langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. Di dunia yang serba lekang, ada satu pegangan yang tidak lapuk.
Rumah bisa dijual, jabatan bisa dicopot, kesehatan bisa surut. Kalau pegangan kita ada di situ semua, wajar kita gemetar setiap membaca berita. Tapi kalau pegangan kita sabda yang tidak berlalu itu, tanda-tanda zaman berubah fungsi: dari sumber cemas menjadi undangan berbenah.
Pekan ini, tanda-tanda apa yang sedang Allah tuliskan di ranting-ranting hidup kita? Dan kita ini sedang gemetar, atau sedang berbenah?
Tuhan, ajarilah aku membaca musim tanpa menjadi takut, dan berpegang pada sabda-Mu yang tidak akan berlalu. Amin.