Minggu, 10 Oktober 2027
Satu Hal yang Kurang
Di rumah-rumah kita ada barang yang tidak akan pernah dijual. Album foto tua. Cincin peninggalan mendiang ibu. Kalau banjir datang, justru barang-barang yang tak berharga di mata pasar itulah yang pertama diselamatkan. Diam-diam kita tahu: yang paling bernilai memang tidak ada harganya.
Salomo dalam bacaan pertama tahu hal itu. Ditawari segalanya, ia memilih hikmat. Emas dianggapnya pasir, perak dianggapnya lumpur. Bukan karena emas itu buruk, melainkan karena ada yang jauh melampauinya. Dan lihat akibatnya: bersama hikmat itu, segala harta datang juga. Sebagai bonus, bukan sebagai tujuan.
Minggu lalu Yesus berbicara tentang perkawinan dan memeluk anak-anak kecil. Hari ini datang seorang yang tampaknya sempurna. Muda, kaya, saleh. Semua perintah sudah ia turuti sejak masa mudanya. Markus mencatat satu kalimat yang mudah terlewat: Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya. Justru karena mengasihi, Yesus berani menunjuk titik lemahnya: hanya satu lagi kekuranganmu. Juallah, berikanlah, lalu ikutlah Aku.
Orang itu pergi dengan sedih. Ia tidak sanggup. Banyak hartanya, kata Markus. Atau lebih tepat: harta itu yang memilikinya. Ia datang bertanya tentang hidup kekal, lalu pulang memeluk simpanannya.
Firman Allah memang lebih tajam daripada pedang bermata dua, kata bacaan kedua. Ia menusuk sampai memisahkan jiwa dan roh, membedakan pertimbangan dan pikiran hati. Di hadapan orang muda itu, firman bekerja persis seperti itu: membuka apa yang tersembunyi di balik kesalehannya. Segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata-Nya. Termasuk kita.
Murid-murid gempar: kalau begitu siapa yang dapat diselamatkan? Unta dan lubang jarum memang bukan gambaran yang menghibur. Tetapi jawaban Yesus melegakan: bagi manusia tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin. Keselamatan bukan barang yang bisa dibeli orang kaya atau direbut orang kuat. Ia anugerah, diterima dengan tangan yang berani kosong. Dan bagi yang berani melepas, janji-Nya tidak tanggung-tanggung: seratus kali lipat, sekarang pada masa ini juga.
Pertanyaan bagi kita bukan pertama-tama berapa isi rekening. Pertanyaannya: apa yang tidak sanggup kita lepaskan bila Yesus memintanya? Bisa harta, bisa jabatan, bisa dendam, bisa rasa aman. Di situlah letak satu hal yang kurang itu, dan letaknya berbeda pada tiap orang.
Tuhan, Engkau memandang aku dan mengasihiku. Berilah aku hikmat menghargai Engkau di atas segala milikku, dan keberanian melepas apa yang menahan langkahku mengikuti-Mu. Amin.