Selasa, 24 Agustus 2027
Mari dan Lihatlah
Setiap daerah punya stereotipnya. Orang kota ini dicap pelit, orang kampung itu dicap kasar. Label semacam itu menempel turun-temurun, dan kita sering menghakimi orang dari alamatnya sebelum mengenal wajahnya.
Natanael, yang hari ini kita kenang dengan nama Bartolomeus, sempat terjebak label itu. Ketika Filipus bercerita tentang Yesus dari Nazaret, ia menyahut sinis: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Nazaret memang kampung kecil yang tidak diperhitungkan siapa-siapa. Dari tempat seperti itu, pikir Natanael, mustahil lahir Mesias.
Filipus tidak berdebat. Jawabannya hanya tiga kata: “Mari dan lihatlah!” Prasangka memang jarang kalah oleh argumen; ia kalah oleh perjumpaan. Dan begitu berjumpa, Natanael justru dipuji Yesus sebagai orang Israel sejati yang tidak ada kepalsuan di dalamnya, lalu ia mengaku: “Rabi, Engkau Anak Allah!”
Orang yang tadinya sinis itu kemudian menjadi rasul. Bacaan pertama melukiskan Yerusalem surgawi yang dua belas batu dasarnya memuat nama para rasul. Nama si peragu dari Kana kini terukir di fondasi kota Allah.
Kepada siapa kita masih memasang label? Barangkali undangan Filipus berlaku juga bagi kita: jangan menghakimi dari jauh. Mari dan lihatlah.
Tuhan, bersihkanlah mataku dari prasangka, supaya aku mengenali kebaikan-Mu di tempat yang tak kuduga. Amin.