Minggu, 22 Agustus 2027
Kepada Siapa Lagi?
Dalam setiap pernikahan yang panjang, ada satu momen yang jarang difoto: momen ketika salah satu atau keduanya sempat ingin menyerah, lalu memutuskan bertahan. Tidak romantis, tidak ada musiknya. Hanya keputusan yang diambil ulang, kadang sambil menangis. Justru momen seperti itulah yang membuat sebuah pernikahan layak disebut setia.
Injil hari ini merekam momen serupa dalam hubungan Yesus dengan para murid-Nya. Setelah panjang lebar berbicara tentang roti hidup, tentang daging-Nya yang diberikan untuk hidup dunia, banyak murid mundur. “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Mereka pergi satu per satu. Yesus tidak mengejar, tidak melunakkan ajaran-Nya supaya laku. Ia justru menoleh kepada kedua belas murid yang tersisa dan bertanya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”
Pertanyaan yang berani. Yesus memberi ruang untuk pergi. Iman yang dipaksa memang bukan iman. Kasih hanya bisa dijawab dengan bebas.
Jawaban Petrus menjadi salah satu pengakuan terindah dalam Injil: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.” Perhatikan: Petrus tidak berkata bahwa semuanya sudah jelas baginya. Ia hanya tahu satu hal: tidak ada alamat lain yang lebih benar. Iman Petrus bukan iman tanpa tanya, melainkan iman yang tahu ke mana harus pulang.
Bacaan pertama menghadirkan pilihan yang sama di zaman Yosua: “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” Iman selalu berbentuk pilihan yang diperbarui, bukan warisan yang berjalan otomatis.
Dan bacaan kedua mendaratkan semuanya di rumah tangga. Paulus berbicara tentang suami istri yang saling merendahkan diri, saling mengasihi seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya, sampai menyerahkan diri. Rahasia ini besar, katanya. Kesetiaan suami istri ternyata gambar kecil dari kesetiaan Allah sendiri. Setiap pasangan yang bertahan dalam kasih sedang mewartakan sesuatu tentang Tuhan.
Kita semua punya masa ketika perkataan Tuhan terasa keras: ajaran tentang pengampunan saat kita terluka, tentang kesetiaan saat godaan datang, tentang salib saat hidup sedang berat. Di masa seperti itu, iman tidak harus berupa perasaan yang menyala-nyala. Kadang cukup berupa kalimat Petrus yang diucapkan pelan: kepada siapa lagi aku akan pergi?
Bertahan bukan tanda kalah. Dalam iman, bertahan adalah nama lain dari mengasihi. Dan yang bertahan tidak pernah bertahan sendirian; Ia lebih dulu setia kepada kita.
Tuhan, saat perkataan-Mu terasa keras, kuatkanlah aku untuk tetap tinggal, sebab pada-Mulah hidup yang kekal. Amin.