‹ Semua renungan

Minggu, 15 Agustus 2027

Nyanyian dari Pegunungan

Lagu-lagu besar tidak selalu lahir di gedung konser. Kadang ia lahir di dapur, di sawah, di punggung bukit, dinyanyikan perempuan sederhana sambil bekerja. Nyanyian seperti itu tidak direkam studio, tetapi diwariskan dari mulut ke mulut, dari ibu ke anak. Justru karena lahir dari hidup yang sesungguhnya, ia bertahan melampaui zaman.

Magnificat adalah lagu semacam itu. Maria, gadis dari kampung kecil Nazaret, sedang mengandung. Ia menempuh perjalanan jauh ke pegunungan Yehuda untuk menolong Elisabet, saudarinya yang hamil di usia tua. Dua ibu hamil bertemu, dan yang terjadi bukan keluh kesah, melainkan ledakan sukacita. Bayi melonjak dalam rahim. Lalu Maria bernyanyi: “Jiwaku memuliakan Tuhan.”

Simak liriknya baik-baik. Ini bukan lagu yang manis-manis saja. Yang congkak dicerai-beraikan. Yang berkuasa diturunkan dari takhta. Yang rendah ditinggikan. Yang lapar dikenyangkan. Yang kaya disuruh pergi dengan tangan hampa. Dari mulut seorang gadis desa, wong cilik di mata dunia, mengalir keyakinan bahwa Allah bekerja membalik keadaan.

Hari ini Gereja merayakan puncak dari pembalikan itu: Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Perempuan yang bermadah “Ia meninggikan orang-orang yang rendah” kini mengalaminya secara penuh. Kitab Wahyu melukiskannya sebagai tanda besar di langit: perempuan berselubungkan matahari, bulan di bawah kakinya, mahkota dua belas bintang di kepalanya.

Apa artinya bagi kita? Paulus menjelaskannya dalam bacaan kedua: Kristus telah bangkit sebagai yang sulung, lalu menyusul mereka yang menjadi milik-Nya. Maria adalah buah pertama dari panen itu. Ia bukti bahwa janji kebangkitan bukan kiasan. Tubuh manusia, dengan segala kerapuhannya, ternyata dimaksudkan untuk kemuliaan, bukan untuk berakhir sebagai debu belaka.

Maka pesta hari ini adalah pesta pengharapan. Naga dalam Kitab Wahyu memang masih berkeliaran: kejahatan, penyakit, maut. Tetapi ujung cerita sudah ditentukan. Musuh terakhir, yaitu maut, akan dibinasakan. Yang setia pada Allah tidak jatuh ke mana-mana selain ke dalam tangan-Nya.

Dan jangan lupa: Maria menerima kemuliaan itu bukan karena melakukan hal-hal spektakuler. Ia percaya, ia berangkat menolong saudarinya, ia bertahan di kaki salib. Kesetiaan dalam hal-hal kecil ternyata jalan menuju hal-hal besar. Surga, kata pesta ini, dimulai dari kesediaan berangkat menolong saudara.

Adakah “Elisabet” yang menanti kunjungan kita pekan ini? Mungkin dari sanalah nyanyian syukur kita akan lahir.

Bunda Maria yang diangkat ke surga, doakanlah kami, agar setia di bumi dan sampai di rumah Bapa. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →