Selasa, 6 Juli 2027
Kurang Tangan
Setiap musim panen, keluhan di desa itu-itu juga: padi sudah menguning serentak, tetapi tenaga panen susah dicari. Gabah bisa rontok sia-sia hanya karena kurang tangan. Padahal panen adalah puncak dari segala jerih payah setahun.
Kemarin kita mendengar Yesus membangkitkan anak yang mati dan menyembuhkan perempuan yang belasan tahun sakit. Hari ini Matius menutup rangkaian kisah itu dengan sebuah pemandangan: Yesus berkeliling ke semua kota dan desa, lalu berhenti, memandang orang banyak. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.
Lalu keluarlah kalimat itu: tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Menarik, Yesus tidak berkata benihnya kurang. Ladang Allah tidak pernah kekurangan rahmat. Yang kurang selalu tangan yang mau turun.
Dan perintah pertama-Nya bukan berangkat, melainkan berdoa: mintalah kepada tuan yang empunya tuaian. Sebelum jadi pekerja, jadilah pendoa. Tetapi hati-hati, doa semacam ini berbahaya. Orang yang sungguh-sungguh mendoakannya biasanya pelan-pelan digerakkan menjadi jawabannya sendiri.
Di lingkungan kita, tuaian itu nyata: yang sakit tak dikunjungi, yang lansia kesepian, anak-anak yang butuh pendamping iman. Kurang tangannya, ya kita ini. Tuaian itu tidak menunggu orang hebat; ia menunggu orang yang bersedia.
Tuan yang empunya tuaian, utuslah pekerja ke ladang-Mu, dan mulailah dari tanganku. Amin.