Minggu, 13 Juni 2027
Tidur Nyenyaknya Petani
Petani mana pun tahu satu rahasia yang jarang diucapkan: setelah benih ditabur, pekerjaan terbesar justru bukan miliknya. Ia bisa mengairi, memupuk, menyiangi. Tetapi membuat benih pecah dan tumbuh? Tidak ada tangan manusia yang bisa. Maka petani pulang, makan, tidur. Dan sementara ia tidur, di dalam gelap tanah, sesuatu bekerja.
Yesus mengangkat rahasia sawah itu menjadi rahasia Kerajaan Allah. Beginilah hal Kerajaan Allah: seumpama orang menaburkan benih, lalu malam ia tidur, siang ia bangun, dan benih itu tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah.
Kalimat itu melegakan sekaligus menampar. Melegakan, karena pertumbuhan bukan tanggung jawab kita sepenuhnya. Menampar, karena kita sering berlaku seperti petani yang tiap jam menggali benihnya untuk memeriksa apakah sudah berakar. Orang tua yang cemas imannya tidak menurun pada anak. Pewarta yang kecewa karena pendengarnya tidak kunjung berubah. Kita ingin panen menurut kalender kita sendiri.
Lalu Yesus menambahkan perumpamaan kedua: biji sesawi, yang paling kecil dari segala benih, tumbuh menjadi lebih besar dari segala sayuran, sampai burung-burung bersarang di naungannya. Nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama sudah memakai gambar serupa. Allah mengambil sebuah carang muda dari puncak pohon aras, menanamnya di gunung, dan pohon kecil itu menjadi naungan segala burung. Aku merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah. Cara kerja Allah memang begitu: mulai dari yang kecil, bekerja dalam senyap, hasilnya melampaui hitungan.
Minggu lalu Paulus berbicara tentang kediaman kekal yang menanti setelah kemah bumi ini dibongkar. Hari ini ia menarik kesimpulan hidupnya: hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. Persis seperti petani itu. Ia tidak melihat apa yang terjadi di dalam tanah. Ia percaya, maka ia bisa tidur nyenyak.
Barangkali inilah undangan Minggu ini: belajar tidur nyenyaknya petani. Bukan tidur karena malas, melainkan tidur karena percaya. Kita sudah menabur doa untuk anak yang jauh dari gereja? Sudah menanam kebaikan yang belum tampak buahnya? Jangan digali-gali lagi. Di dalam gelap yang tidak kita lihat, Allah sedang bekerja.
Benih mana dalam hidup kita yang sedang Allah tumbuhkan diam-diam, tepat ketika kita mengira tidak terjadi apa-apa?
Tuhan, aku telah menabur. Sekarang ajarilah aku percaya dan tidur nyenyak, sebab Engkaulah yang menumbuhkan. Amin.