Jumat, 4 Juni 2027
Jantung yang Tak Pernah Cuti
Ada satu pekerja di dalam tubuh kita yang tidak pernah mengambil cuti. Jantung. Sejak dalam kandungan sampai napas terakhir, ia berdetak kira-kira seratus ribu kali sehari. Kita tidur, ia bekerja. Kita lupa, ia tetap memompa. Kita tidak pernah menyuruhnya. Tidak pernah pula berterima kasih.
Hari ini Gereja merayakan Hati Yesus yang Mahakudus. Bulan Juni memang bulan Hati Kudus. Dan yang dirayakan bukan sekadar gambar hati bermahkota duri di dinding rumah, melainkan kenyataan yang sederhana sekaligus mencengangkan: kasih Allah bekerja seperti jantung. Terus-menerus. Tanpa disuruh. Tanpa menunggu dihargai.
Bacaan pertama memberi kita potretnya. Hana duduk mengamati jalan, menunggu anaknya pulang. Tobit yang buta tersandung-sandung keluar pintu demi menyongsong Tobia. Lalu empedu ikan itu mengelupaskan bintik putih dari matanya, dan pecahlah tangis: aku melihat engkau, anakku, cahaya mataku! Seluruh kisah Tobit sebenarnya kisah tentang hati orang tua. Hati yang menunggu di tepi jalan. Hati yang tersandung pun tetap berlari menyambut.
Bukankah begitu hati Allah? Yesus sendiri melukiskannya dalam kisah anak yang hilang: bapa itu melihat anaknya dari jauh, lalu berlari. Hati Kudus bukan devosi yang manis-manis saja. Ia adalah pernyataan bahwa di pusat semesta ini ada yang berdebar untuk kita.
Dalam Injil, Yesus bertanya: bagaimana ahli Taurat dapat mengatakan Mesias hanyalah anak Daud? Pertanyaan itu mengajak orang melihat lebih dalam. Mesias bukan sekadar keturunan raja, sosok politik penerus takhta. Ia Tuhan yang duduk di sebelah kanan Allah. Orang banyak mendengarkan-Nya dengan penuh minat. Barangkali karena mereka merasakan sesuatu yang tidak diajarkan para ahli: yang berdiri di depan mereka bukan hafalan silsilah, melainkan hati Allah sendiri yang datang berdetak di tengah manusia.
Kita sering mengukur kasih Allah dari naik turunnya perasaan kita. Sedang semangat, Allah terasa dekat. Sedang kering, kita menyangka Ia pergi. Padahal jantung tidak berhenti hanya karena kita tidak merasakan detaknya. Coba sekarang tempelkan jari ke pergelangan tangan. Ada denyut di situ. Dari mana ia berasal? Bukan dari usaha kita. Begitulah kasih-Nya: lebih setia daripada kesadaran kita akan Dia.
Pertanyaan untuk hari raya ini sederhana. Kalau hati-Nya berdetak untuk kita tanpa henti, untuk siapa hati kita berdetak?
Tuhan Yesus, Hati-Mu bekerja bagiku bahkan saat aku lupa. Jadikanlah hatiku serupa Hati-Mu: setia berdetak bagi Allah dan sesama. Amin.