‹ Semua renungan

Minggu, 30 Mei 2027

Teman Semeja

Dalam bahasa kita, orang yang akrab disebut teman semeja. Bahasa Latin lebih tegas lagi. Kata companio, leluhur dari kata kompanyon dan kawan seperjalanan, terbentuk dari cum dan panis: orang yang berbagi roti yang sama. Persahabatan sejati, menurut kata itu, lahir dari makan bersama.

Hari ini kita merayakan Tubuh dan Darah Kristus. Dan kalau kita renungkan, itulah yang Allah kerjakan dalam Ekaristi: Ia menjadikan diri-Nya roti, supaya kita menjadi teman semeja-Nya. Allah yang mahatinggi memilih hadir bukan dalam guntur, melainkan dalam sepotong roti yang bisa dipegang tangan dan disambut lidah. Bukankah itu keajaiban yang kita saksikan di altar setiap hari, sampai-sampai kita lupa takjub?

Minggu lalu kita mendengar Yesus berbicara tentang anggur baru yang membutuhkan kantong baru. Hari ini kita melihat anggur baru itu bekerja. Orang Farisi menegur murid-murid yang memetik bulir gandum pada hari Sabat. Yesus menjawab dengan prinsip yang membebaskan: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat." Lalu di rumah ibadat, di depan mata para pengintai, Ia menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Bagi Yesus, hukum yang paling kudus pun harus bermuara pada hidup manusia. Ibadat sejati tidak pernah bertentangan dengan belas kasih.

Bacaan pertama mengingatkan asal usul Sabat: "Ingatlah, engkau pun dahulu budak di tanah Mesir." Hari istirahat itu hadiah pembebasan, bukan belenggu baru. Demikian pula Ekaristi. Ia bukan kewajiban yang memberatkan, melainkan meja pembebasan, tempat para bekas budak duduk makan sebagai anak-anak.

Lalu Paulus menyumbang gambaran yang mengharukan: harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat. Betapa cocoknya untuk hari raya ini. Tubuh Kristus disambut oleh tubuh kita yang rapuh. Hosti kudus diletakkan di tangan yang pernah berbuat dosa. Allah rupanya tidak menunggu bejana emas. Ia rela tinggal dalam bejana tanah, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Dia, bukan dari kita.

Maka sesudah menyambut komuni, jangan buru-buru merasa selesai. Kita yang telah makan roti yang sama diutus menjadi teman semeja bagi sesama: berbagi meja, berbagi rezeki, berbagi hidup. Ekaristi yang berhenti di mulut belum sampai ke tujuannya. Ia baru genap ketika sampai ke tangan.

Tuhan Yesus, Roti Hidup, tinggallah dalam bejana tanah ini, dan jadikanlah aku roti yang terbagi bagi sesamaku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →