Minggu, 2 Mei 2027
Daftar Undangan Allah
Setiap kali keluarga kita punya hajat, ada satu pekerjaan yang diam-diam paling rumit: menyusun daftar undangan. Siapa masuk, siapa tidak. Sampai mana batas tetangga yang diundang? Tiga rumah ke kanan, atau seluruh RT? Daftar undangan selalu berarti satu hal: ada yang di dalam, ada yang di luar.
Petrus hari ini belajar bahwa daftar undangan Allah tidak bekerja seperti itu. Ia masuk ke rumah Kornelius, seorang perwira Roma, orang asing, bukan Yahudi. Menurut aturan lama, rumah itu jelas di luar pagar. Tetapi di sana Petrus menyaksikan sesuatu yang membuat rombongannya tercengang-cengang: Roh Kudus turun ke atas semua orang yang mendengarkan, tanpa menunggu persetujuan panitia. Maka keluarlah pengakuan besar itu: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang."
Perhatikan urutannya. Roh turun dulu, baru Petrus membaptis. Allah bergerak lebih dahulu, manusia menyusul. Yohanes dalam bacaan kedua merumuskannya dengan indah: bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita. Kasih selalu berangkat dari sana. Kita ini penerima sebelum menjadi pemberi.
Injil hari ini memuncakkan semuanya. Yesus berkata, "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, tetapi sahabat." Hamba bekerja karena takut, dan tidak tahu apa yang diperbuat tuannya. Sahabat tinggal karena kasih, dan diberi tahu segala sesuatu. Yesus membuka isi hati Bapa kepada kita seperti orang membuka isi rumahnya kepada karibnya. Dan sahabat macam apa ini? "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu." Lagi-lagi Allah yang lebih dulu. Kita tidak melamar menjadi sahabat-Nya. Kita diundang.
Kalau begitu, pertanyaannya berbalik kepada kita. Undangan yang kita terima dengan cuma-cuma itu, kita teruskan kepada siapa? Ataukah kita sibuk menjaga pagar, memilah siapa yang pantas dan siapa yang tidak? Gereja yang lahir dari rumah Kornelius adalah Gereja yang pagarnya dibongkar Roh Kudus sendiri. Aneh kalau kita rajin memasangnya kembali.
Di masa Paskah yang bergerak menuju Pentakosta ini, baiklah kita berlatih satu hal sederhana: mengasihi tanpa menyeleksi. Menyapa orang yang biasa kita lewati. Mendoakan orang yang tidak sepaham dengan kita. Mengundang duduk orang yang biasanya hanya berdiri di luar. Sebab setiap orang, dari bangsa dan golongan mana pun, ternyata sudah lebih dulu ada dalam daftar undangan Allah.
Bapa, Engkau memilih aku sebelum aku mengenal-Mu. Jadikanlah hatiku seluas hati-Mu, yang tidak membedakan orang. Amin.