‹ Semua renungan

Sabtu, 24 April 2027

Mengebaskan Debu

Pedagang keliling paham hukum sederhana ini: tidak semua pasar menerima dagangan kita. Ditolak di satu tempat, ia tidak duduk meratap di pinggir jalan. Ia membenahi pikulannya dan berjalan ke pasar berikutnya.

Paulus dan Barnabas mengalami penolakan yang jauh lebih pahit. Di Antiokhia Pisidia hampir seluruh kota berkumpul mendengarkan firman. Tetapi sebagian orang menjadi iri, menghujat, lalu menghasut para pembesar sampai kedua rasul itu dianiaya dan diusir dari daerah itu. Reaksi mereka dicatat dengan ringkas: mereka mengebaskan debu kaki mereka, lalu pergi ke Ikonium.

Mengebaskan debu bukan tindakan dendam. Itu cara untuk tidak membawa pulang kepahitan. Debu penolakan tidak boleh menempel sampai ke kota berikutnya, sebab tugas masih panjang. Dan ayat penutupnya mencengangkan: murid-murid di Antiokhia penuh dengan sukacita dan Roh Kudus. Diusir, tetapi penuh sukacita. Sukacita mereka rupanya tidak dititipkan pada sambutan orang.

Dalam Injil, Yesus berkata kepada Filipus: barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Barangkali di sinilah sumber sukacita yang tak bisa dirampas itu: mereka telah memandang wajah Allah dalam Yesus, maka wajah masam manusia tidak lagi menentukan segalanya.

Penolakan apa yang debunya masih kita bawa ke mana-mana sampai hari ini?

Tuhan, ajarilah kami mengebaskan debu kekecewaan, agar kami melangkah ringan melanjutkan tugas dari-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →