Rabu, 27 Januari 2027
Penabur yang Boros
Petani sungguhan tidak menabur seperti penabur dalam perumpamaan hari ini. Benih itu mahal. Ia hanya menaburkannya di tanah yang sudah diolah. Tidak ada petani yang sengaja melempar benih ke jalan, ke batu, atau ke semak duri.
Tetapi penabur dalam cerita Yesus melakukannya. Ia menabur ke mana-mana, seperti tidak takut rugi. Di situlah kabar baiknya tersembunyi: Allah memang seboros itu dengan firman-Nya. Ia tidak menyeleksi dulu mana hati yang layak. Semua kebagian taburan.
Persoalannya pindah ke tanah. Ada hati sekeras jalan, tempat firman mental lalu dipatuk burung. Ada yang berbatu: cepat menyambut, cepat pula layu ketika kesulitan datang. Ada yang penuh semak: firman sempat tumbuh, tetapi dihimpit kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan sampai tidak sempat berbuah.
Jujur saja, keempat tanah itu bukan empat golongan orang. Keempatnya bergantian ada dalam diri kita. Hari ini gembur, besok mengeras. Yang melegakan, tanah bisa diolah. Kerikil bisa dipunguti, semak bisa dibabat. Itulah yang kita sebut pertobatan.
Dan lihat janjinya bila tanahnya baik: tiga puluh, enam puluh, seratus kali lipat. Tuhan tidak pernah menabur untuk hasil yang pas-pasan.
Tuhan, gemburkanlah tanah hatiku hari ini, supaya firman yang Kautabur dengan boros itu berbuah pada waktunya. Amin.