Selasa, 12 Januari 2027
Kata yang Berbobot
Kita hidup dikepung kata-kata. Janji iklan, slogan kampanye, kalimat motivasi yang berseliweran ke mana-mana. Banyak yang nyaring, sedikit yang berbobot. Janji diobral pagi, dilupakan sore. Lama-lama telinga kita menjadi kebal.
Kemarin Yesus memanggil empat nelayan di tepi danau. Hari ini mereka mengikuti-Nya masuk rumah ibadat Kapernaum, dan langsung menyaksikan sesuatu yang membuat semua orang takjub: "Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat."
Apa bedanya? Para ahli Taurat mengajar dengan mengutip: kata rabi ini, kata tafsir itu. Yesus berbicara dari diri-Nya sendiri, dan hidup-Nya senapas dengan kata-Nya. Kata yang berbobot memang lahir dari situ: dari jarak yang nol antara ucapan dan kehidupan. Orang mendengar bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan menimbang hidup si pembicara.
Bahkan roh jahat pun taat. Satu hardikan pendek, "Diam, keluarlah dari padanya!", dan selesai. Tanpa upacara panjang. Kuasa sejati tidak membutuhkan banyak kata.
Kita boleh bercermin. Kata-kata kita di rumah, di rapat, di percakapan sehari-hari: berbobot atau sekadar bunyi? Anak-anak dan orang di sekitar kita hafal betul mana ucapan kita yang bisa dipegang dan mana yang angin lalu.
Tuhan, satukanlah kata dan hidupku, supaya ucapanku tidak menjadi bunyi kosong di telinga sesamaku. Amin.